SONICPOP.ASIA – Band death metal asal Bandung, Forgotten, kembali menghadirkan album ketujuh mereka, Silalatu, dalam format digital melalui Coexist Music. Setelah sebelumnya dirilis dalam bentuk compact disc pada 2020 bersama Grimloc Records, kini album tersebut dapat dinikmati lebih luas melalui berbagai platform streaming musik.
Langkah ini menjadi cara Forgotten menjangkau generasi pendengar baru sekaligus mempertegas eksistensi mereka di tengah perkembangan industri musik digital, tanpa meninggalkan identitas khas yang telah mereka bangun selama lebih dari tiga dekade.
Dalam bahasa Sunda, Silalatu berarti “percikan bunga api”. Makna itu tercermin kuat dalam keseluruhan album yang sarat nuansa budaya Sunda, baik dari sisi musikal maupun konsep yang diusung.
Album ini berisi sembilan lagu, yakni Rapalan Kala, Warta Derita Padalisan 1, Warta Derita Padalisan 2, Badai Api, Silalatu, Fantasmagoria Padalisan 1, Fantasmagoria Padalisan 2, Titik Api, dan Layung Mamala.
Lagu pembuka Rapalan Kala langsung menawarkan warna berbeda lewat perpaduan elemen musik Sunda dan rapalan lirik dari Morgue Vanguard. Nuansa tersebut kemudian mengalir ke dua lagu berikutnya, Warta Derita Padalisan 1 dan Warta Derita Padalisan 2, yang menjadi bagian penting dalam alur cerita album.
Salah satu momen paling menarik hadir pada lagu Silalatu yang menjadi title track album. Forgotten menghadirkan sentuhan berbeda melalui petikan gitar klasik yang dipadukan dengan vokal Shifa Amelia. Lagu ini ditempatkan di tengah album, tepat setelah Badai Api, sebagai titik transisi dalam perjalanan musikal yang dibangun.
Secara konsep, Silalatu merupakan kelanjutan dari album Kaliyuga yang dirilis pada 2018. Album ini menggambarkan fase awal kehancuran sekaligus semangat perlawanan yang dirangkai dalam satu benang cerita utuh.
Narasi tersebut diperkuat melalui deretan lagu agresif seperti Fantasmagoria Padalisan 1, Fantasmagoria Padalisan 2, hingga Titik Api, sebelum akhirnya ditutup dengan komposisi instrumental Layung Mamala.
Dari sisi lirik, vokalis Addy Gembel tetap konsisten mengangkat berbagai isu sosial yang selama ini menjadi ciri khas Forgotten. Sementara secara musikal, kekuatan album ini ditopang permainan gitar Zoteng Kampret dan Gan-gan, bass Diki, serta gebukan drum Rizalu yang solid.
Sebelum merilis kembali Silalatu dalam format digital, Forgotten lebih dulu menambah katalog karya mereka melalui EP live yang direkam saat tampil di Bandung Deathfest 7 pada awal tahun ini.
Terbentuk sejak 1994 di kawasan Ujungberung, Bandung, Forgotten dikenal sebagai salah satu pionir brutal death metal Indonesia. Pengaruh mereka terhadap perkembangan musik metal ekstrem Tanah Air menjadikan nama Forgotten tetap diperhitungkan hingga hari ini.
Kini, Silalatu telah tersedia di berbagai platform streaming digital, membuka kesempatan bagi pendengar lama maupun generasi baru untuk kembali menyelami percikan api yang dibawa Forgotten lewat karya terbarunya.


