SONICPOP.ASIA – BINAL kembali menghidupkan album PUNKY lewat format fisik CD-R setelah sebelumnya merilis album tersebut secara digital melalui Bandcamp pada 26 Juli 2025. Langkah ini sekaligus menjadi cara mereka mempertahankan semangat DIY yang masih lekat dengan kultur punk independen.
Berisi 20 lagu dengan durasi rata-rata di bawah satu menit, PUNKY terdengar seperti sekumpulan demo yang entah sengaja atau tidak sengaja dilepas menjadi sebuah album. Namun di balik kesan berantakan itu, BINAL masih menyisakan ruang bagi pendengar untuk menangkap ritme, pola lagu, dan lirik berbahasa Indonesia yang terdengar cukup jelas.
Sebagian besar lagu dibangun dari satu riff gitar yang diputar berulang-ulang sampai selesai. Tidak ada upaya untuk terdengar megah, teknis, atau bahkan benar-benar selesai. Justru di situlah daya tarik sekaligus kelemahannya. Album ini terasa seperti buku catatan yang belum sempat dirapikan, kumpulan ide yang direkam sebelum pemiliknya berubah pikiran.
Di tengah kecenderungan banyak band untuk mengejar produksi yang semakin bersih dan presisi, PUNKY memilih bergerak ke arah sebaliknya. Album ini tidak berusaha menjadi nyaman didengar oleh semua orang. Ia terdengar kasar, terburu-buru, dan kadang terasa seperti rekaman latihan yang kebetulan direkam lalu diputuskan layak dirilis.
Meski demikian, ada kejujuran yang sulit ditemukan dalam rilisan yang terlalu dipoles. BINAL membiarkan lagu-lagunya berdiri apa adanya tanpa banyak kompromi. Hasilnya adalah album yang mungkin terasa membingungkan bagi sebagian pendengar, tetapi justru menarik bagi mereka yang mencari sesuatu yang lebih spontan dan tidak terikat formula.
Perilisan format CD-R juga memberi kehidupan baru bagi PUNKY hampir setahun setelah debut digitalnya. Di era streaming, keputusan merilis format fisik sederhana seperti CD-R terasa seperti pernyataan kecil bahwa musik masih bisa hadir sebagai benda yang dapat disentuh, dikoleksi, dan diperdagangkan secara langsung antar sesama pelaku skena.
Apakah PUNKY layak didengarkan? Mungkin tidak untuk kebanyakan orang. Namun bagi mereka yang bosan dengan musik yang terlalu rapi dan ingin menemukan sesuatu yang terasa mentah, aneh, dan setengah jadi, album ini bisa menjadi pengingat bahwa punk sejak awal memang tidak pernah dibangun untuk menyenangkan semua orang.



