Lima tahun mungkin belum cukup panjang untuk disebut sebuah perjalanan besar. Tapi dalam sebuah band, lima tahun bisa berarti banyak hal: lagu-lagu yang datang dan pergi, perubahan cara melihat musik, sampai hubungan antarmanusia yang perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Bagi Senduriang, perjalanan itu kemudian dirangkum lewat “Jati & Paku”, single terbaru yang mereka rilis setelah tumbuh bersama sejak 2020.
Judulnya berangkat dari sesuatu yang sederhana. Pohon jati dan tumbuhan paku dapat hidup berdampingan, dengan paku menempel tanpa membuat salah satunya harus mendapat keuntungan atau mengalami kerugian. Sebuah hubungan yang dekat, tetapi tidak menuntut.
Gagasan tersebut kemudian menjadi cara Senduriang melihat kembali perjalanan mereka selama lima tahun terakhir. Bukan hanya hubungan antara orang-orang di dalam band, tetapi juga bagaimana mereka berhubungan dengan pendengar dan, pada akhirnya, dengan musik yang selama ini mereka buat.
Ada keinginan untuk tetap dekat tanpa harus saling mengikat. Untuk tumbuh berdampingan tanpa merasa perlu memiliki satu sama lain.
Cara pandang itu terasa cukup masuk akal ketika melihat Senduriang sebagai sebuah band yang tumbuh jauh dari pusat industri musik Indonesia. Berasal dari Palangka Raya, Senduriang dibentuk pada 2020 dan kini beranggotakan Herman dan Yoga UP. Dalam perjalanannya, duo indie-folk ini telah merilis album Hampa Raya pada 2022, disusul EP Menjadi Hujan Menuju Lautan pada 2025, serta sejumlah single seperti “Jenggala” dan “Kepada Sendu”.
“Jati & Paku” kemudian hadir seperti sebuah penanda kecil di antara perjalanan tersebut. Alih-alih menjadikan usia lima tahun sebagai perayaan yang besar, Senduriang memilih melihat ke dalam: tentang apa yang membuat sebuah hubungan dapat bertahan, dan bagaimana kedekatan tidak selalu harus berarti keterikatan.

Cerita itu turut diteruskan melalui video musik animasi yang memodifikasi kisah folklor Nusantara, dengan percampuran romansa dan fantasi di dalamnya. Video tersebut dijadwalkan tayang pada Sabtu, 25 Juli 2026 pukul 18.15 WIB.
Pada akhirnya, mungkin “Jati & Paku” memang tidak hanya bicara tentang dua tumbuhan yang kebetulan hidup berdekatan. Ia menjadi metafora tentang orang-orang yang bertemu, berbagi ruang untuk beberapa waktu, lalu tumbuh dengan caranya masing-masing.
Dan setelah lima tahun berjalan, Senduriang tampaknya sedang belajar bahwa kebersamaan tidak selalu harus diukur dari seberapa kuat sesuatu mengikat—kadang, cukup dari bagaimana keduanya tetap bisa tumbuh berdampingan.
Instagram: @sendvriang



