• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Rabu, Agustus 5, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Protocol Afro Bikin Lagu soal Maling 18 Tahun Lalu, dan Kita Masih Punya Masalah yang Sama

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
Juli 28, 2026
in Berita Terbaru
Protocol Afro Bikin Lagu soal Maling 18 Tahun Lalu, dan Kita Masih Punya Masalah yang Sama
Share on FacebookShare on Twitter

Ada maling. Orang-orang panik. Seseorang berteriak memanggil polisi. Sisanya mungkin bisa kita bayangkan sendiri. Kurang lebih dari situ Protocol Afro membangun “Maling (Tolong Pak Polisi!)”, nomor chaotic rock yang sebenarnya sudah mereka tulis hampir 18 tahun lalu. Lagu ini bahkan disebut sebagai lagu pertama yang pernah diciptakan Protocol Afro, hanya saja selama bertahun-tahun ia tidak pernah benar-benar sampai ke platform digital.

Sekarang “Maling” akhirnya keluar. Dan anehnya, lagu berumur hampir dua dekade tentang kepanikan publik, kemarahan kolektif, aparat, dan orang-orang yang gemar bereaksi lebih dulu sebelum berpikir itu masih terdengar cukup masuk akal pada 2026.

Entah ini pertanda Protocol Afro sudah visioner sejak awal, atau kita memang tidak bergerak sejauh yang kita kira.

Di pusat lagu ini ada kalimat yang nyaris terdengar seperti adegan sinetron: “Tolong Pak Polisi, ada maling di sini.” Protocol Afro menggunakannya untuk membawa cerita tentang seorang pencuri yang terjebak di tengah kepanikan, tuduhan, dan reaksi berlebihan orang-orang di sekitarnya. Di balik kelucuannya, mereka mencoba membicarakan hubungan masyarakat dengan otoritas, rasa keadilan, dan kecenderungan manusia untuk ikut marah ketika semua orang sudah lebih dulu marah.

Tema seperti ini sebenarnya bukan wilayah yang benar-benar baru. Musik sudah lama menjadi tempat yang nyaman untuk membicarakan aparat, ketidakadilan, masyarakat yang frustrasi, atau sistem yang dianggap tidak bekerja sebagaimana mestinya. Sampai titik tertentu, tema “kritik sosial” bahkan bisa berubah menjadi formula yang sama amannya dengan lagu patah hati: tinggal mengganti siapa yang dimarahi.

Untungnya, “Maling” punya satu hal yang membuatnya sedikit lebih menarik: lagu ini ternyata datang dari 18 tahun lalu.

Protocol Afro

Alih-alih menulis materi baru untuk merespons keadaan hari ini, Protocol Afro justru membongkar arsip mereka sendiri. Setelah berbagai pergantian formasi, jarak Jakarta-Bali, dan jeda selama pandemi, lagu pertama itu diaransemen ulang untuk mencari bentuk yang lebih dekat dengan Protocol Afro hari ini.

Versi 2026-nya pun tidak sekadar mengeluarkan rekaman lama dari hard disk. Raveliza dari The SIGIT mengisi departemen drum, sementara produksinya melibatkan Kevaz Lucky, produser berbasis di California. Reney Karamoy dari Scaller menangani mixing dan mastering, sedangkan artwork dikerjakan Titis RK, ilustrator asal Magelang yang kini berbasis di Swedia.

Semua nama itu membuat “Maling” terdengar seperti proyek yang digarap cukup serius untuk sebuah lagu yang pusat ceritanya tetap seseorang berteriak minta tolong karena ada maling.

Dan mungkin kontradiksi itulah bagian menyenangkannya. Di balik kekacauan dan humornya, Protocol Afro ingin membawa lagu ini ke persoalan yang lebih serius: vigilantisme atau tindakan main hakim sendiri. Ketika rasa percaya terhadap hukum menipis dan kemarahan lebih mudah menyebar daripada informasi, keinginan untuk menciptakan “keadilan” sendiri justru dapat menghasilkan kekacauan berikutnya.

Kebetulan, “Maling” dirilis pada minggu yang sama dengan Hari Bhayangkara, 1 Juli. Protocol Afro menegaskan bahwa waktunya bukan dimaksudkan sebagai glorifikasi terhadap institusi kepolisian. Mereka lebih tertarik mempertanyakan bagaimana masyarakat mencari keteraturan dan akuntabilitas ketika emosi telanjur mengambil alih.

Sampai sini, sebenarnya “Maling” sudah punya cukup banyak pekerjaan rumah. Tapi kemudian Protocol Afro menambahkan satu tafsir lagi: maling yang berlari juga dianggap menyerupai kita yang terus berlari mengejar tenggat, ekspektasi, dan ambisi.

Nah, bagian ini mungkin tidak terlalu dibutuhkan.

Tidak semua maling harus menjadi metafora kehidupan. Kadang-kadang sebuah lagu tentang kepanikan, masyarakat, kemarahan, dan orang yang berteriak memanggil polisi sudah cukup menarik tanpa harus ikut menjelaskan kegelisahan manusia modern.

Terlebih setelah 18 tahun, pertanyaan paling menarik dari “Maling” barangkali bukan apakah lagunya masih relevan. Melainkan kenapa ia masih bisa relevan.

Instagram: @protocolafro

Next Post
Clever Moose Menemukan Arah Baru Lewat “Dhabab Dhini”

Clever Moose Menemukan Arah Baru Lewat "Dhabab Dhini"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.