Ada hal-hal dari masa lalu yang ternyata tidak benar-benar pergi.
Ia cuma berhenti dibicarakan, disimpan sebentar, lalu suatu hari muncul lagi ketika sedang mandi, menyetir, bengong sebelum tidur, atau—kalau kebetulan punya band—berubah menjadi lagu.
Sleepz memilih opsi terakhir.
Lewat debut EP Calls In Motion, unit pop-punk ini mengumpulkan enam lagu yang banyak berangkat dari pengalaman personal: apa yang sudah terjadi, apa yang sedang dijalani sekarang, dan segala emosi yang rupanya masih tersangkut di antara keduanya.
Prosesnya sendiri tidak sebentar. Hampir satu tahun dihabiskan untuk menulis sampai merekam materi tersebut. Hasil akhirnya adalah enam lagu dengan lirik emosional, gitar fuzzy, dan dinamika yang tidak selalu berjalan lurus.
Dan mungkin memang sebaiknya begitu.
Sebab hidup juga jarang punya tracklist yang rapi.
Pop-punk yang sesekali ingin keluar rumah
Kalau melihat akar musiknya, Sleepz sebenarnya berada di wilayah yang cukup mudah dikenali.
Band yang beranggotakan Erwan pada vokal, Edwin di gitar, Adi pada bass, dan Fikri di drum ini membawa persinggungan pop-punk, emo, dan alternative rock. The Story So Far, Basement, Title Fight, sampai Citizen menjadi beberapa nama yang ikut membentuk referensi musikal mereka.
Tapi Calls In Motion tidak dibuka dengan sesuatu yang langsung meneriakkan semua referensi itu.
Sleepz justru mengajak musisi elektronik Askhaera untuk berkolaborasi di track pertama. Hasilnya adalah instrumental bernuansa trap yang cukup danceable pilihan pembuka yang sedikit melenceng dari ekspektasi terhadap sebuah EP pop-punk.
Setelah itu, barulah Sleepz mulai menarik pendengarnya masuk lebih dalam.
Empat lagu berikutnya memainkan tempo cepat dan lambat, gitar yang fuzzy, ketukan drum yang naik-turun, serta melodi yang masih berusaha tinggal di kepala meski cerita di belakangnya tidak selalu menyenangkan. Setelah cukup banyak energi dikeluarkan, semuanya kemudian ditutup dengan sebuah nomor akustik yang jauh lebih manis.
Enam lagu, tetapi Sleepz tampaknya tidak tertarik membuat enam versi dari lagu yang sama.
Untungnya.
Hampir setahun hidup bersama lagu sendiri
Ada sesuatu yang cukup intim dari fakta bahwa Calls In Motion membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk selesai.
Bukan karena satu tahun adalah angka yang luar biasa panjang dalam sejarah rekaman musik. Tetapi membayangkan empat orang terus mendengar materi yang sama selama berbulan-bulan sudah cukup melelahkan.
Ada fase ketika sebuah riff terdengar luar biasa.
Seminggu kemudian terdengar biasa saja.Sebulan kemudian mungkin dibenci.
Lalu dua bulan setelahnya ternyata bagus lagi.
Begitulah kira-kira hubungan manusia dengan sesuatu yang dibuatnya sendiri.Dalam Calls In Motion, proses tersebut dikerjakan secara independen, termasuk tahapan rekaman hingga mixing dan mastering, dengan bantuan Azzis dari band rock GILAS.
Tetapi cerita yang lebih penting sebenarnya bukan soal bagaimana EP ini direkam.
Melainkan apa yang akhirnya berhasil disimpan di dalamnya.
Calls In Motion seperti kumpulan potongan kehidupan yang tidak dipaksa untuk mempunyai satu kesimpulan besar. Ada masa lalu, kehidupan hari ini, kegelisahan, energi yang meledak, lalu bagian yang memilih untuk sedikit lebih tenang.
Namanya juga hidup.
Kadang pagi ingin menghancurkan dunia, malamnya cuma ingin rebahan sambil mempertanyakan keputusan lima tahun lalu.

Tidak perlu buru-buru menemukan bentuk
Sebagai debut EP, bagian menarik dari Calls In Motion justru ada pada ketidakseragamannya.
Sleepz bisa saja mengambil jalan paling aman: enam lagu pop-punk, tempo cepat, chorus besar, selesai.
Tapi di rilisan ini ada trap. Ada gitar fuzzy. Ada pengaruh emo dan alternative rock. Ada permainan tempo. Ada pula lagu akustik yang ditempatkan sebagai penutup.
Apakah itu berarti Sleepz sudah menemukan identitas musikal yang akan mereka bawa bertahun-tahun ke depan?
Belum tentu. Dan rasanya mereka juga tidak perlu buru-buru.
Ada obsesi aneh untuk meminta band baru segera punya “karakter”. Seakan setelah beberapa lagu pertama, sebuah band sudah harus tahu persis ingin menjadi apa sampai lima album berikutnya.
Padahal mencari bentuk adalah bagian yang menyenangkan.
Calls In Motion terdengar seperti Sleepz sedang berada dalam fase tersebut: mengambil hal-hal yang mereka sukai, mencampurkannya dengan pengalaman sendiri, lalu melihat apa yang terjadi ketika semuanya dimainkan bersama.
Ada bagian yang keras.
Ada yang catchy.
Ada yang emosional.
Ada pula yang memilih menutup semuanya secara akustik.
Tidak semuanya harus dijelaskan.
Kadang sebuah debut memang cukup menjadi foto keadaan sebuah band pada satu periode tertentu—sebelum selera berubah, kehidupan berubah, dan orang-orang di dalamnya ikut berubah.
Karena itu, Calls In Motion terasa lebih tepat dibaca bukan sebagai pernyataan besar tentang siapa Sleepz sebenarnya.
Ini baru enam lagu pertama mereka untuk mengatakan:
“Untuk sekarang, beginilah bunyi isi kepala kami.”
Dan untuk sebuah debut, mungkin itu sudah lebih dari cukup.
Sleepz Access :
Instagram : @sleepz.trp | All DSP : Sleepz



