• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Jumat, November 6, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

NOISER Merilis Debut Album “HUMANIORA”, Membawa Keresahan Manusia dalam Dentuman Thrash Metal

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
Oktober 8, 2026
in Berita Terbaru
NOISER Merilis Debut Album “HUMANIORA”, Membawa Keresahan Manusia dalam Dentuman Thrash Metal
Share on FacebookShare on Twitter

Manusia punya kebiasaan yang cukup aneh. Kita menciptakan aturan, membangun peradaban, berebut kekuasaan, lalu mengeluh ketika semuanya mulai berantakan. Belum lagi urusan keserakahan, kemunafikan, dan orang-orang yang merasa paling benar. Kalau dipikir-pikir, sebagian besar kekacauan di dunia ini memang tidak datang begitu saja. Ada campur tangan manusia di dalamnya.

Barangkali itu pula yang membuat thrash metal masih punya cukup banyak alasan untuk terus berisik.

Dari Pekanbaru, NOISER membawa persoalan tersebut ke dalam album penuh perdana mereka, “HUMANIORA”, yang dirilis pada 28 Agustus 2026. Berisi delapan lagu dengan durasi sekitar 25 menit 52 detik, album ini menjadi tempat bagi NOISER untuk menumpahkan berbagai keresahan tentang manusia dan segala tingkah lakunya.

Tidak ada upaya untuk membuat persoalan tersebut terdengar manis. NOISER memilih jalur yang sejak awal sudah mereka tekuni: thrash metal dengan riff gitar tajam, permainan drum intens, dan lirik yang banyak bersinggungan dengan persoalan sosial.

Band yang terbentuk pada penghujung 2021 ini sebenarnya sudah mulai memperlihatkan arah pembicaraannya lewat single “Find The Throne” pada 2022. Lagu tersebut menyinggung ambisi dan perebutan kekuasaan, dua hal yang rasanya tidak pernah benar-benar absen dari sejarah manusia.

Tiga tahun berselang, mereka kembali dengan “Syair Memabukkan”. Kali ini sasarannya adalah ego, kemunafikan, dan kecenderungan manusia untuk merasa paling memahami kebenaran. Sebuah persoalan yang cukup akrab, terutama ketika setiap orang punya ruang untuk menyampaikan pendapat, tetapi tidak semuanya merasa perlu mendengarkan.

Lagu tersebut kemudian mendapat tempat dalam “HUMANIORA”, berdampingan dengan tujuh materi lain yang bergerak di sekitar persoalan serupa.

Artwork Humaniora

Melalui “Tuan Makan Senjata”, NOISER menyoroti kekuasaan dan berbagai persoalan sosial yang menyertainya. Sementara “Sampah Peradaban” bergerak ke wilayah yang lebih muram, membicarakan bagaimana perilaku manusia perlahan ikut menghancurkan peradaban yang mereka bangun sendiri.

Ada pula “Istana”, yang kembali membawa pembicaraan ke sekitar kekuasaan dan segala hal yang tumbuh di sekelilingnya. Bersama “Syair Memabukkan”, lagu-lagu tersebut membentuk gambaran tentang manusia yang tidak pernah benar-benar lepas dari ambisi, kepentingan, dan pertentangan.

Tema-tema semacam ini tentu bukan barang baru dalam thrash metal. Sejak lama, genre tersebut menjadi salah satu tempat yang cukup nyaman untuk membicarakan perang, politik, ketidakadilan, dan berbagai bentuk kebusukan sosial. Musiknya cepat, keras, dan tidak terlalu peduli apakah semua orang akan merasa nyaman mendengarkannya.

NOISER tampaknya memahami hubungan antara musik yang mereka mainkan dan persoalan yang ingin disampaikan. Alih-alih menjadikan agresivitas sebagai tujuan akhir, mereka menggunakannya untuk memberi tekanan pada cerita-cerita yang dibawa.

Menariknya, “HUMANIORA” tidak membutuhkan durasi panjang untuk menyampaikan gagasannya. Delapan lagu selesai dalam waktu kurang dari setengah jam. Cukup singkat untuk ukuran album penuh, tetapi sejalan dengan pendekatan thrash metal yang kerap memilih langsung menghantam daripada terlalu lama berputar-putar.

Di luar urusan rekaman, perjalanan NOISER juga berkembang melalui panggung-panggung musik. Salah satu pengalaman yang mereka catat adalah kesempatan berbagi panggung dengan Burgerkill dalam acara Porak Poranda, bagian dari rangkaian tur Burgerkill di Sumatera pada 2025.

Bagi band yang baru terbentuk beberapa tahun sebelumnya, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari perjalanan mereka membangun tempat di tengah skena musik keras.

Kini, lewat “HUMANIORA”, NOISER punya kesempatan memperkenalkan gagasannya dalam format yang lebih utuh. Bukan lagi melalui satu atau dua single yang berdiri sendiri, melainkan delapan lagu yang saling berdekatan secara tema.

Ada satu benang merah yang cukup jelas: manusia sering kali menjadi penyebab dari persoalan yang kemudian mereka keluhkan sendiri.

Kita menginginkan kedamaian, tetapi terus menciptakan konflik. Mengutuk keserakahan, tetapi tidak selalu mampu menahan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Berbicara tentang moralitas, sementara dalam praktiknya kerap menemukan alasan untuk melanggar prinsip yang kita buat sendiri.

Kontradiksi semacam inilah yang menjadi bahan bakar “HUMANIORA”.

Tentu saja, sebuah album thrash metal tidak akan serta-merta menyelesaikan persoalan kekuasaan, kemunafikan, atau ketidakadilan. Delapan lagu tidak cukup untuk membereskan dunia yang sudah telanjur rumit.

Namun, musik memang tidak selalu harus datang membawa solusi. Kadang ia hanya perlu menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan layak dibicarakan.

Lewat “HUMANIORA”, NOISER memilih menyampaikan kegelisahan tersebut dengan cara yang paling mereka kenal: bermain cepat, keras, dan membiarkan amarah menemukan bentuknya sendiri.

Lagi pula, kalau manusia masih terus membuat kekacauan, rasanya thrash metal tidak akan kehabisan bahan untuk ditulis.

“HUMANIORA” telah dirilis pada 28 Agustus 2026 sebagai album penuh perdana NOISER.

Instagram: @thrashnoiser | All DSP: Noiser

Next Post
Terlalu Percaya Diri untuk Peduli, MAF Lepas “HOT” Bersama Torino, Muclles, dan Kivv

Terlalu Percaya Diri untuk Peduli, MAF Lepas “HOT” Bersama Torino, Muclles, dan Kivv

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.