Lewat EP perdana bertajuk Dinner on Fire, band rock alternatif asal Tasikmalaya ini merangkum keterasingan, penyalahgunaan kuasa, hingga relasi personal ke dalam lima lagu yang berangkat dari kegelisahan terhadap dunia di sekitar mereka.
Ada banyak hal yang perlahan kita terima sebagai sesuatu yang wajar. Perilaku yang semestinya dipertanyakan, kekuasaan yang berjalan tanpa banyak perlawanan, atau kemajuan yang selalu dirayakan tanpa benar-benar membicarakan apa yang harus dikorbankan untuk mencapainya. Kita terbiasa hidup berdampingan dengan semua itu, sampai terkadang lupa bahwa sesuatu yang umum terjadi belum tentu bisa dibenarkan.
Kegelisahan semacam inilah yang menjadi salah satu titik berangkat Dinner on Fire, band rock alternatif asal Tasikmalaya yang merilis EP perdana mereka, Dinner on Fire, pada 1 Juli 2026. Berisi lima lagu, rilisan ini menjadi upaya Abdurrahman Al-Anshory dan Rayhan Sofyan Burhanudin untuk memperkenalkan identitas musikal sekaligus memperlihatkan persoalan-persoalan yang mengisi ruang berpikir mereka.
Dibentuk pada 2024, Dinner on Fire tumbuh melalui pertemuan antara energi mentah grunge, atmosfer post-punk, dan penulisan lirik yang bersinggungan dengan pengalaman personal serta isu sosial. Pengaruh Nirvana, Sonic Youth, dan Joy Division terasa dalam referensi musikal mereka, sementara pendekatan penulisannya turut dipengaruhi oleh karya-karya Majelis Lidah Berduri.
Namun, Dinner on Fire tidak sekadar menjadi etalase referensi musik. Lima lagu di dalamnya justru memperlihatkan bagaimana persoalan yang terdengar besar dan abstrak bisa bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

EP ini dibuka melalui “Alien”, sebuah lagu yang membicarakan keterasingan dan pencarian makna eksistensi manusia. Perasaan menjadi asing, mempertanyakan keberadaan diri, atau mencoba memahami posisi seseorang di tengah dunia yang terus bergerak menjadi pintu masuk menuju keseluruhan rilisan. Dari pertanyaan yang sifatnya personal, Dinner on Fire kemudian bergerak ke persoalan yang lebih luas.
“Normalisasi Moral Abnormal” menyoroti bagaimana perilaku amoral dapat perlahan diterima sebagai sesuatu yang biasa. Ada persoalan dalam proses ketika sesuatu yang semestinya memancing keberatan justru kehilangan daya kejutnya karena terus-menerus terjadi. Dalam konteks ini, normalisasi bukan hanya soal kebiasaan, melainkan juga tentang bagaimana batas antara yang benar dan yang salah dapat bergeser tanpa banyak disadari.
Sementara itu, “Urbanisasi” mempertanyakan harga yang harus dibayar atas nama kemajuan. Kota dan pembangunan sering kali hadir dengan janji tentang kehidupan yang lebih baik, tetapi pertanyaan mengenai konsekuensi dari perubahan tersebut tidak selalu memperoleh ruang yang sama. Lewat lagu ini, Dinner on Fire membawa pembicaraan tentang kemajuan ke wilayah yang lebih kritis: bukan semata-mata tentang apa yang bisa dicapai, melainkan juga apa yang mungkin tertinggal di belakang.
Persoalan kuasa kemudian menjadi perhatian dalam “Otoritarianisme”. Lagu ini membahas penyalahgunaan kekuasaan dan dampaknya terhadap mereka yang menjadi korban. Di sisi lain, “Kausalitas Regulasi Terhadap Hubungan Romansa Remaja” mengalihkan perhatian pada relasi romantis dan berbagai faktor sosial yang memengaruhinya. Dua lagu ini memperlihatkan rentang pembahasan Dinner on Fire, dari struktur kekuasaan yang menempatkan seseorang dalam posisi rentan hingga hubungan personal yang tidak pernah sepenuhnya terlepas dari lingkungan sosialnya.
Judul-judul tersebut mungkin terdengar serius, bahkan cenderung akademis. Akan tetapi, persoalan yang diangkat tidak berdiri jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru di situlah letak pendekatan Dinner on Fire: mencoba memberi ruang bagi hal-hal yang kerap kita temui, tetapi belum tentu sempat kita pikirkan lebih jauh.
Keputusan menggunakan nama band sebagai judul EP perdana juga menjadi cara untuk memperkenalkan kelima lagu tersebut sebagai satu kesatuan. Alih-alih memulai dengan satu pernyataan tunggal, Dinner on Fire menawarkan sejumlah pintu masuk menuju dunia yang ingin mereka bicarakan. Ada keterasingan, moralitas, pembangunan, kekuasaan, dan hubungan romantis tema-tema yang berbeda, tetapi sama-sama berangkat dari upaya memahami kehidupan di sekitar mereka.
Proses pengerjaan EP ini dimulai pada akhir 2025. Seluruh proses rekaman, mixing, dan mastering dilakukan di Trikarya Musikatama. Hasilnya adalah rilisan perdana yang menempatkan pengalaman personal dan pengamatan sosial sebagai bagian penting dari identitas Dinner on Fire.
Meski banyak bersentuhan dengan persoalan yang tidak selalu menyenangkan, band ini tidak bermaksud berhenti pada kemarahan atau pesimisme. Ada keinginan untuk menemukan titik temu dengan pendengar yang merasakan keresahan serupa, sekaligus mengingatkan bahwa menghadapi berbagai persoalan hidup bukanlah pengalaman yang harus ditanggung sendirian.
“Kami ingin menunjukkan bahwa berbagai persoalan yang dialami banyak orang bukanlah sesuatu yang mereka hadapi sendirian. Melalui EP ini, kami ingin mengajak pendengar untuk tetap optimis di tengah berbagai persoalan sosial maupun personal,” demikian pernyataan Dinner on Fire mengenai arah yang ingin mereka bawa melalui rilisan ini.
Pada akhirnya, Dinner on Fire tidak menawarkan jawaban sederhana atas persoalan-persoalan yang diangkatnya. Lima lagu ini lebih menyerupai upaya untuk berhenti sejenak, melihat kembali hal-hal yang telanjur dianggap biasa, dan mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.
Di tengah kehidupan yang sering menuntut orang untuk terus bergerak, mungkin mempertanyakan keadaan adalah salah satu cara untuk tetap waras. Dan bagi Dinner on Fire, musik menjadi ruang untuk melakukan itu mengolah keresahan menjadi sesuatu yang bisa didengar, dibagikan, dan, mudah-mudahan, membuat pendengarnya merasa sedikit tidak sendirian.
EP Dinner on Fire telah tersedia di seluruh platform streaming digital sejak 1 Juli 2026.
Instagram: @dof.band


