• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Kamis, November 5, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

RAW BLUE dan Seni Berdamai dengan Isi Kepala Sendiri Lewat “Numb To Everything”

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
Oktober 14, 2026
in Berita Terbaru
RAW BLUE dan Seni Berdamai dengan Isi Kepala Sendiri Lewat “Numb To Everything”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Share on FacebookShare on Twitter

Datang dari berbagai sudut skena hardcore dan punk, RAW BLUE justru memilih tenggelam dalam gitar-gitar melankolis dan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai dengan diri sendiri.

Ada kalanya hal paling melelahkan dalam hidup bukan datang dari orang lain, melainkan dari isi kepala sendiri. Perasaan tidak cukup baik, keraguan yang terus berulang, sampai kebiasaan mempertanyakan segala sesuatu tentang diri sendiri. Hal-hal semacam ini mungkin terdengar terlalu biasa untuk dijadikan bahan pembicaraan, tetapi justru dari sanalah RAW BLUE menemukan alasan untuk membuat musik.

Unit asal Jakarta ini resmi memperkenalkan EP perdana mereka, Numb To Everything, pada 21 Agustus 2026 melalui Haum Entertainment. Berisi empat lagu, rilisan ini menjadi semacam ruang untuk membicarakan berbagai keresahan personal tanpa harus sibuk mencari jawaban atau menawarkan penyelesaian yang terdengar bijaksana.

RAW BLUE sendiri bukan benar-benar kumpulan wajah baru. Band ini dihuni Kornelius Kevin, Chaidir Fadli Rahman, Ghani Noorputrawan, dan Herbert Widodo, yang sebelumnya terlibat dalam sejumlah nama seperti No Excuse, Twisted Games, Frack, Walk Fearless, Cold Skin, hingga The Brandals.

Dengan latar belakang yang cukup lekat dengan hardcore dan punk, mungkin mudah membayangkan RAW BLUE sebagai perpanjangan dari kebisingan band-band sebelumnya. Kenyataannya, mereka justru mengambil jalan yang agak berbeda.

Alih-alih mengandalkan agresi dan tempo yang meledak-ledak, RAW BLUE memilih bermain di wilayah shoegaze, alternative rock, dan slowcore. Gitar-gitar yang mengawang, lapisan suara yang saling bertumpuk, serta aransemen yang cenderung bersahaja menjadi fondasi musik mereka.

Pilihan tersebut bukan berarti para personelnya sedang berusaha meninggalkan identitas musikal terdahulu. RAW BLUE justru lahir sebagai tempat menampung ide-ide yang selama ini sulit menemukan ruang di proyek masing-masing.

Sederhananya, ada beberapa hal yang ingin mereka ceritakan, tetapi tidak semuanya cocok disampaikan dengan cara berteriak.

Artwork Numb to Everything

Dalam Numb To Everything, Kevin yang menulis seluruh lirik dan komposisi mencoba mengurai persoalan tentang kepercayaan diri, cara seseorang memandang dirinya sendiri, serta berbagai kegelisahan yang kerap muncul tanpa alasan yang benar-benar jelas.

“EP Numb To Everything nggak sepenuhnya mewakili pengalaman pribadi gue, tapi lebih mewakili keresahan gue, atau mungkin keresahan orang-orang yang punya mental health problems,” ujar Kevin.

Menariknya, RAW BLUE tidak menjadikan hubungan romantis sebagai pusat cerita. Tidak ada upaya untuk merangkai empat lagu tentang dua orang yang saling mencintai, berpisah, lalu menyesali semuanya. Fokusnya justru lebih dekat dan mungkin lebih rumit: hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Kevin menggambarkan keseluruhan EP ini sebagai eksplorasi mengenai self-esteem dan bagaimana seseorang berhadapan dengan pikirannya sendiri. Sebuah percakapan internal yang barangkali tidak selalu menyenangkan, tetapi sulit dihindari.

Pendekatan tersebut sudah diperkenalkan lewat single “Chronic Blue”, yang berbicara tentang kelelahan emosional seseorang ketika berusaha keluar dari hubungan yang menguras dirinya. Ada ingatan yang masih tertinggal, kehilangan yang belum sepenuhnya diterima, serta perasaan pahit yang tidak otomatis hilang hanya karena sebuah hubungan telah berakhir.

Namun, alih-alih berhenti pada cerita patah hati, RAW BLUE membawa persoalan itu ke wilayah yang lebih personal: bagaimana seseorang memproses semua yang tertinggal setelahnya.

Secara musikal, karakter melankolis tersebut diterjemahkan melalui permainan gitar bernuansa dreamy dan aransemen yang memberi cukup ruang bagi setiap lapisan suara untuk berkembang. Musik mereka tidak selalu berusaha memenuhi setiap celah dengan kebisingan. Ada bagian-bagian yang justru dibiarkan bernapas.

Proses pengerjaan EP ini sendiri berlangsung sejak beberapa bulan sebelum sesi rekaman dimulai pada April 2026. Meski Kevin menyebut proses kreatifnya relatif tidak rumit, urusan menerjemahkan gagasan menjadi rekaman ternyata membutuhkan sejumlah penyesuaian.

Beberapa aransemen harus dibongkar dan disusun ulang. Sejumlah instrumen bahkan direkam kembali demi mendapatkan karakter suara yang sesuai dengan bayangan mereka.

Rekaman drum dan gitar dilakukan di Plug Studio bersama Deya, sementara vokal dan bass dikerjakan di Invasion Studio bersama Praditya Eka Putra, yang juga menangani mixing dan mastering hingga rampung pada akhir Juni 2026.

Perhatian terhadap detail produksi tersebut cukup masuk akal mengingat RAW BLUE bermain dalam wilayah musik yang sangat bergantung pada tekstur dan atmosfer. Di sini, karakter suara bukan sekadar pelengkap lagu, tetapi bagian dari cara mereka menyampaikan perasaan.

Untuk urusan visual, Ghani Noorputrawan menangani desain, dengan fotografi sampul oleh Alvin Pahrul Prianto dan foto band oleh Fickry Yusuf Kamarullah.

EP ini kemudian menemukan rumahnya di Haum Entertainment, label asal Malang yang selama ini bergerak di sekitar musik emo, shoegaze, dan alternative. Hubungan RAW BLUE dengan label tersebut terjalin cukup organik, berangkat dari kedekatan Kevin dengan pendirinya yang sudah berlangsung sejak lama.

Selepas perilisan Numb To Everything, RAW BLUE tidak terlihat terlalu terburu-buru menentukan arah berikutnya. Mereka ingin menjajal berbagai panggung, bertemu pendengar dari lingkungan yang berbeda, dan melihat sejauh mana musik mereka bisa berkembang di luar ruang rekaman.

Rencana membuat materi baru juga sudah ada, meski belum diputuskan apakah nantinya akan hadir dalam bentuk maxi single, EP, atau bahkan album penuh.

Untuk sebuah band yang lahir dari kebutuhan mencari ruang berekspresi, sikap semacam ini terasa cukup masuk akal. Tidak semua proyek musik harus dimulai dengan peta perjalanan yang terperinci. Kadang, keinginan untuk memainkan sesuatu yang tidak bisa dimainkan di tempat lain sudah menjadi alasan yang cukup.

Lewat Numb To Everything, RAW BLUE memperlihatkan bahwa orang-orang yang terbiasa bermain dalam musik keras juga punya cara lain untuk membicarakan kegelisahan. Tidak selalu melalui kemarahan, tidak selalu dengan distorsi yang menghantam, dan tidak harus terdengar seperti sedang melawan seluruh dunia.

Terkadang, yang perlu dihadapi justru sesuatu yang jauh lebih dekat: diri sendiri.

Dan mungkin, di tengah segala kebisingan yang kita hadapi setiap hari, percakapan semacam itulah yang paling sulit diselesaikan.

Numb To Everything sudah tersedia di berbagai platform streaming digital sejak 21 Agustus 2026 melalui Haum Entertainment.

Instagram:@rawbluetheband | All DSP: Raw Blue

Next Post
Seizasaurus Membicarakan Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Kecil yang Susah Dilupakan Lewat “what if we fall in love?”

Seizasaurus Membicarakan Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Kecil yang Susah Dilupakan Lewat “what if we fall in love?”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.