Pagi sering dianggap sebagai awal yang baru. Tapi bagi sebagian orang, pagi justru berarti kembali menghadapi kenyataan yang sama: pekerjaan yang melelahkan, hidup yang tidak kunjung membaik, dan sederet persoalan yang seolah tak punya jalan keluar. Keresahan semacam inilah yang coba dibicarakan Masaril lewat album debutnya, Selamat Pagi Selamanya.
Di balik nama Masaril, ada Mas’aril Muhtadin atau Aril, musisi asal Malang yang sebelumnya dikenal lewat kelompok musik Mati di Saturnus. Kali ini, ia memilih berjalan sendiri, meninggalkan pendekatan fiksi yang lekat dengan proyek terdahulunya untuk membicarakan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dirilis secara mandiri pada 16 Oktober 2026, Selamat Pagi Selamanya memuat sepuluh lagu bernuansa folk yang lahir dari pengamatan, percakapan, dan berbagai keresahan personal. Berbekal gitar akustik, Aril merangkai cerita tentang moralitas, kematian, ketimpangan sosial, hingga bagaimana manusia terus dipaksa bertahan di tengah keadaan yang tidak selalu berpihak.
Lewat “Badai Juga Tak Sekencang Kemarin”, Masaril membuka album dengan keyakinan sederhana bahwa seburuk apa pun keadaan, hari akan tetap berganti. Namun, optimisme itu segera berhadapan dengan kenyataan yang lebih getir dalam “Pekerja”, sebuah potret tentang rutinitas, upah yang tak seberapa, dan kesejahteraan yang sering kali hanya menjadi janji.
Kritik sosialnya berlanjut dalam “Mushaf Qur’an”, ketika Aril menyinggung ironi sumpah jabatan dan tanggung jawab moral para pemegang kekuasaan. Tanpa perlu terdengar meledak-ledak, ia menggunakan satire untuk mempertanyakan jarak antara janji yang diucapkan dan kenyataan yang dijalankan.

Album ini juga menjadi ruang pertemuan antara musik dan persahabatan. Dua lagu, “Benak yang Rancu” dan “Perkara Sekian”, berangkat dari puisi karya Dwiki Rikus dan Randy Levin Virgiawan alias Kempel, yang kemudian diterjemahkan Masaril ke dalam bentuk musikal.
Menariknya, seluruh proses rekaman dilakukan sendiri di sebuah kontrakan yang lembap dan bising, tanpa produser maupun engineer. Alih-alih mengejar produksi yang serba bersih, Masaril membiarkan suara-suara dari luar ikut masuk ke dalam rekaman. Ketidaksempurnaan itu justru terasa selaras dengan cerita-cerita yang ia bawakan: mentah, dekat, dan manusiawi.
Selamat Pagi Selamanya mungkin bukan album yang menawarkan pelarian dari kenyataan. Sebaliknya, Masaril mengajak pendengarnya duduk sebentar bersama hal-hal yang kerap ingin kita hindari. Tentang hidup yang melelahkan, sistem yang timpang, dan harapan kecil yang tetap dipelihara meski keadaan belum banyak berubah.
Sebab, tidak semua orang bangun pagi dengan perasaan bahagia. Ada yang sekadar berusaha melewati hari, ada yang terpaksa kembali bekerja, dan ada pula yang masih mencari alasan untuk bertahan.
Melalui album ini, Masaril seolah ingin mengatakan bahwa semua pengalaman itu layak didengar.
Selamat Pagi Selamanya sudah tersedia di berbagai platform streaming digital, termasuk Spotify.
Dan barangkali, setelah mendengarkannya, ucapan selamat pagi tidak lagi terdengar sesederhana biasanya.
Instagram: @masarilmm



