Ada sesuatu yang agak canggung ketika harus berhadapan lagi dengan karya yang dibuat saat masih muda. Apalagi kalau jaraknya sudah 20 tahun. Selera berubah, cara berpikir berkembang, dan hal-hal yang dulu terasa begitu penting mungkin sekarang terdengar sedikit asing. Tapi bukan berarti semuanya harus ditinggalkan begitu saja.
Barangkali perasaan semacam itulah yang sedang dihadapi lightcraft ketika memutuskan untuk kembali membuka arsip musik mereka sendiri.
Dua dekade setelah pertama kali dirilis pada 2006, band anthemic pop asal Jakarta ini kembali menghadirkan The Modern Seasons, EP debut yang menjadi salah satu titik awal perjalanan mereka. Bedanya, kali ini mereka tidak sekadar memindahkan rekaman lama ke platform streaming atau memoles kualitas suaranya agar terdengar lebih bersih.
Mereka memilih membongkar semuanya dan memulainya lagi dari awal.
Keputusan itu cukup menarik, mengingat The Modern Seasons sebelumnya hanya tersedia dalam format CD dan tidak pernah mendapatkan perilisan digital. Selama bertahun-tahun, tujuh lagu di dalamnya seperti menjadi potongan sejarah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang kebetulan menyimpan rilisan fisiknya.
Alih-alih menjadikan momentum ulang tahun ke-20 sebagai alasan untuk bernostalgia, lightcraft justru menggunakan kesempatan ini untuk mempertanyakan sesuatu: bagaimana kalau lagu-lagu yang mereka tulis pada 2006 diciptakan dengan kepala dan pengalaman mereka hari ini?
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi dasar dari versi terbaru The Modern Seasons yang resmi dirilis pada 9 Oktober 2026.
Bagi yang mengikuti perjalanan lightcraft, perubahan ini sebenarnya tidak datang begitu saja. Band yang terbentuk di Selangor, Malaysia, ketika para personelnya masih berkuliah ini telah melewati berbagai fase musikal. Dari alternative rock dan anthemic pop yang mengandalkan melodi besar, musik mereka perlahan bergerak menuju wilayah elektronik yang lebih luas.
Dalam versi terbarunya, ketujuh lagu The Modern Seasons mendapatkan aransemen baru yang mempertemukan melodic house, electronica sinematik, tekstur progresif, hingga musik dance. Seluruh proses produksi, mixing, dan mastering ditangani Edwin Zachman di Tavis Studio.

Hasilnya bukan sekadar lagu lama dengan tambahan synthesizer. Setidaknya dari pendekatan yang mereka tawarkan, lightcraft tampak ingin memberikan ruang bagi materi awal mereka untuk tumbuh mengikuti identitas musikal yang sekarang.
Perubahan tersebut sudah diperkenalkan melalui “Waiting for the Morning Sun”, single yang dirilis pada Juli lalu. Lagu yang awalnya bergerak di antara indie rock dan dance itu kini hadir dengan synthesizer yang lebih dominan, groove repetitif, serta bagian akhir bernuansa drum & bass yang cukup jauh dari bentuk awalnya.
Kemudian ada “Like a Child”, yang menyusul pada September. Lewat pendekatan elektronik yang lebih cerah, lagu ini kembali membicarakan sesuatu yang sederhana tetapi sering kali sulit dilakukan ketika usia terus bertambah: mengikuti kata hati dan tetap mengejar hal-hal yang pernah kita impikan.
Namun, salah satu bagian paling menarik dari proyek ini barangkali justru terletak pada “Holding On”.
Lagu tersebut punya tempat tersendiri dalam perjalanan lightcraft. Pada 2007, “Holding On” sempat mencapai posisi keempat di Campur Chart milik Fly FM, Malaysia. Sebuah pencapaian awal yang cukup berarti bagi band yang ketika itu masih berada pada fase membangun identitas.
Hampir 20 tahun kemudian, lagu tersebut dipilih sebagai fokus utama dari versi baru The Modern Seasons.
Secara tema, “Holding On” masih membicarakan kepercayaan, keyakinan, dan keberanian untuk bertahan pada sesuatu meskipun tidak ada jaminan semuanya akan berjalan sesuai harapan.
Menariknya, tema semacam itu justru terasa cukup relevan ketika dibaca dari perspektif sebuah band yang telah berjalan selama dua dekade. Bertahan dalam sebuah kelompok musik, melewati perubahan selera, pergantian zaman, dan berbagai fase kehidupan tentu bukan urusan sederhana.
Dalam konteks tersebut, “Holding On” seperti menemukan makna tambahan yang mungkin belum sepenuhnya disadari ketika lagu itu pertama kali ditulis.
Video musiknya juga kembali mempertemukan lightcraft dengan Reksa Fajar, kolaborator sekaligus sahabat lama yang telah cukup lama terlibat dalam perjalanan visual mereka.
Sementara itu, empat lagu lainnya, “Into the Light”, “Random Lovers”, “Dreaming”, dan “Make No Mistake”, melengkapi perjalanan musikal yang sedang mereka susun ulang.
Khusus “Into the Light”, lightcraft menggandeng safiradinda, alter ego musikal dari Adinda Safira, yang juga bertanggung jawab atas desain dan tata letak artwork EP tersebut. Keterlibatan Adinda membuat proyek ini tidak hanya berbicara tentang perubahan musik, tetapi juga bagaimana identitas visual sebuah karya lama dapat diterjemahkan kembali.
Sebelum dirilis secara digital, keseluruhan materi baru The Modern Seasons sempat diperkenalkan secara langsung melalui pertunjukan bertajuk Twenty: Full Circle di Salihara Arts Center, Jakarta, pada 12 September 2026.
Pertunjukan itu digelar dalam ruangan berbentuk lingkaran, dengan penonton mengelilingi band. Sebuah format yang terasa cukup selaras dengan gagasan proyek ini: kembali ke titik awal, tetapi dengan pengalaman dan perspektif yang sudah berbeda.
Setelah empat album, sejumlah EP, dan perjalanan panggung yang membawa mereka tampil di lebih dari 15 negara, lightcraft tentu bukan lagi sekumpulan mahasiswa yang sedang mencoba mencari bentuk musiknya sendiri seperti pada 2006.
Namun, justru di situlah letak menariknya The Modern Seasons.
Mereka tidak berusaha berpura-pura menjadi versi muda dari diri mereka sendiri. Sebaliknya, lightcraft menerima bahwa banyak hal telah berubah, termasuk cara mereka memahami lagu-lagu yang pernah ditulis.
Ada banyak band yang memilih merayakan perjalanan panjangnya dengan merilis ulang katalog lama, membuat kompilasi, atau menggelar konser nostalgia. Tidak ada yang salah dengan pendekatan tersebut. Namun, lightcraft mengambil jalan yang sedikit berbeda dengan memperlakukan karya awal mereka sebagai sesuatu yang masih bisa dibentuk kembali.
Tentu saja, pendekatan seperti ini juga menyisakan pertanyaan. Seberapa jauh sebuah lagu bisa diubah sebelum kehilangan karakter aslinya? Dan apakah kenangan yang melekat pada sebuah karya harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama?
The Modern Seasons mungkin tidak memberikan jawaban mutlak untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi setidaknya, lightcraft menunjukkan bahwa menghargai masa lalu tidak selalu berarti membiarkannya tetap utuh.
Kadang, cara terbaik untuk kembali mengenal sesuatu yang pernah begitu dekat justru dengan mendengarkannya menggunakan telinga yang berbeda.
Dan setelah 20 tahun, mungkin memang sudah waktunya lightcraft melakukan itu.
Instgaram: @lightcraftmusic | All DSP: Lightcraft



