SONICPOP.ASIA – Band alternatif rock asal Jakarta-Depok, 6Petang, mulai mencuri perhatian lewat EP debut bertajuk “Mucikari Ambisi Koloniali” yang dirilis pada 2026. Karya ini menjadi luapan keresahan anak muda yang bergelut dengan rutinitas kerja, tekanan sosial, hingga kerasnya kehidupan kota.
Nama 6Petang sendiri diambil dari momen yang akrab bagi banyak orang: jam pulang kerja. Situasi macet, padatnya transportasi umum, hingga emosi yang menumpuk di jalan menjadi inspirasi utama mereka dalam meramu musik.
Band yang digawangi Zul (vokal/gitar), Yusoff (bass), dan Adib (drum) ini mengusung warna alternative rock dengan distorsi gitar kuat, tempo cepat, dan lirik yang lugas.
Dalam EP ini, 6Petang menghadirkan empat lagu yang masing-masing mengangkat isu berbeda, namun tetap berada dalam benang merah kehidupan urban.
Salah satunya lagu “Badut Titel” yang menyoroti kerasnya politik kantor. Lagu ini menggambarkan bagaimana karyawan kerap harus “bermain peran” demi bertahan dan naik jabatan, bukan semata karena kinerja.
Sementara lagu “Hedonis” menyentil gaya hidup modern yang serba cepat dan cenderung konsumtif. Tekanan untuk mengikuti tren hingga kehilangan jati diri menjadi tema utama yang dibawa.
Di sisi lain, lagu “6 Petang” menangkap realita jalanan kota besar—kemacetan, emosi pengendara, hingga potensi konflik yang muncul di ruang publik.
Adapun track utama “Mucikari Ambisi Koloniali” mengangkat kritik terhadap relasi kuasa di dunia kerja, terutama sosok atasan yang digambarkan eksploitatif dan menekan pekerja.
Secara musikal, 6Petang banyak terinspirasi dari band seperti Queen of the Stone Age, Arctic Monkeys, hingga referensi lokal seperti Efek Rumah Kaca dan Morfem.
Melalui EP debut ini, 6Petang tak hanya ingin memperkenalkan karya, tetapi juga membuka ruang bagi pendengar yang merasakan keresahan serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Saat ini, mereka tengah aktif mempromosikan EP tersebut sekaligus mencari panggung untuk memperluas jangkauan pendengar di skena musik alternatif Indonesia.



