SONICPOP.ASIA – Band alternatif asal Kalimantan Timur, TMBK, resmi merilis EP terbaru bertajuk “8=D” pada 1 Mei 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional. Dirilis dalam format kaset pita edisi terbatas melalui Bandit Record Balikpapan, EP ini memuat lima lagu yang lahir dari tekanan hidup, rutinitas kerja, tanggung jawab keluarga, hingga berbagai keresahan sosial yang mereka rasakan sehari-hari.
Bagi TMBK, perilisan “8=D” bukan sekadar peluncuran karya baru. Album mini tersebut menjadi simbol bahwa semangat bermusik mereka tetap bertahan meski harus dijalani di tengah kesibukan masing-masing personel yang tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Timur.
“Kami siapkan 1 Mei 2026 sebagai hari istimewa perilisan album bertajuk ‘8=D’. Album ini berisi lima track yang proses pengerjaan hingga perilisannya menjelma menjadi perayaan yang pas atas masih menggeloranya semangat kami berlima bermusik di tengah rutinitas harian,” tulis TMBK.
EP ini lahir dari proses yang tidak mudah. Selama hampir satu tahun, para personel mengerjakan materi secara terpisah dari Samarinda, Balikpapan, Sangatta hingga Kota Bangun. Kondisi tersebut justru membentuk karakter album yang sarat dengan tema perjuangan, tekanan hidup, dan kritik sosial.
Lagu pembuka “KTLMNKTL” menjadi gerbang masuk menuju dunia yang dibangun TMBK dalam EP ini. Track yang dikerjakan bersama Muara Record itu menghadirkan nuansa berbeda lewat penggunaan gambus Kutai sebagai elemen utama.
Setelah itu, TMBK membawa pendengar ke lagu “KJL”, yang sebelumnya telah dirilis sebagai single pada Mayday 2025. Lagu ini mengangkat isu yang mereka sebut sebagai matinya meritokrasi, ketika kemampuan dan kompetensi dianggap kalah oleh patronase serta praktik titipan dalam berbagai sektor kehidupan.
Kritik sosial semakin tajam dalam “CLKXII”, lagu yang membahas konflik agraria dan perebutan ruang hidup masyarakat. Track ini diperkuat oleh kolaborasi bersama Timbul Cahyono, vokalis Epitaph, yang turut menyumbangkan vokal tamu.
Sementara itu, “BTOAPI” menjadi satu-satunya lagu berbahasa Inggris dalam EP tersebut. Melalui lagu ini, TMBK menyampaikan pandangan kritis mereka terhadap berbagai dinamika politik dan ekonomi global yang dinilai berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia.
EP ditutup melalui “TNPBLTG”, sebuah outro yang kembali dikerjakan bersama Muara Record. Lagu ini menghadirkan kritik satir mengenai masa depan pangan dan kondisi sosial yang mereka pandang semakin absurd.
Seluruh proses rekaman dilakukan di sejumlah studio berbeda. Vokal direkam di D’Flo Music Lab Samarinda, gitar dan bass di Hatetroops Studio Samarinda, drum di Klamonski Studio Balikpapan, sementara proses mixing dan mastering dikerjakan di Rescunesia Rock Sangatta.
Saat ini TMBK diperkuat oleh Randy Suryawinatha (vokal), Nopri Wahyu Dinur dan Endie Soeprajitno (gitar), Fadli Amga (bass), serta Rendy Asra (drum).


