SONICPOP.ASIA – Dee Lestari resmi membuka babak baru dalam perjalanan musiknya lewat album ketiga bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta. Setelah lebih dulu memperkenalkan tiga single, yakni “(Jangan) Jatuh Cinta”, “Perahu Kertas”, dan “Kabarku”, kini Dee menghadirkan album utuh berisi delapan lagu yang merangkai perjalanan emosi tentang cinta, kehilangan, harapan, hingga keikhlasan.
Album ini menghadirkan sejumlah kejutan. Salah satunya duet Dee bersama Afgan dalam lagu “Cuma Satu Nama”, karya yang ditulis bersama mendiang suaminya, Reza Gunawan. Ada pula “Hujan Bulan Juni”, kolaborasi yang akhirnya terwujud antara Dee Lestari dan mendiang Sapardi Djoko Damono setelah sempat tertunda sejak proyek film adaptasi novel dengan judul yang sama pada 2017.
Album (Jangan) Jatuh Cinta disusun layaknya perjalanan sebuah hati yang melewati berbagai fase kehidupan. Lagu pembuka “(Jangan) Jatuh Cinta” hadir sebagai peringatan tentang risiko jatuh cinta dengan aransemen Rendy Pandugo dan sentuhan vokal Teddy Adhitya.
Perjalanan itu berlanjut ke “Patah Hati”, yang menggambarkan fase ketika cinta tak bisa dihindari namun berakhir menyakitkan. Kemudian “Kabarku” menjadi titik terendah atau rock bottom dalam perjalanan tersebut. Lagu yang digarap Fellow Amateurs ini menjadi salah satu nomor yang paling dekat dengan pengalaman banyak pendengar berkat liriknya yang lugas dan emosional.
Harapan kembali muncul lewat “Hujan Bulan Juni”. Berangkat dari puisi legendaris Sapardi Djoko Damono, lagu ini dihidupkan dalam nuansa intim melalui aransemen Gardika Gigih dan dukungan choir Barsena Bestandhi.
Nuansa album berubah lebih cerah melalui “Jadi Udara”. Lagu yang diproduseri Dimas Wibisana itu menghadirkan warna optimistis ketika hati akhirnya menemukan kepastian. Arina Ephipania dari Mocca turut mengisi vokal latar bersama sejumlah anggota tim Dee Lestari.
Selanjutnya hadir “Perahu Kertas”, lagu yang telah lama menjadi salah satu karya paling populer Dee. Melalui sentuhan baru Petra Sihombing, lagu tersebut kembali lahir dengan nuansa yang lebih segar tanpa kehilangan identitas aslinya.
Puncak perjalanan album berada di lagu “Cuma Satu Nama”. Duet Dee dan Afgan menjadi perayaan tentang dua hati yang akhirnya berani melangkah bersama menuju masa depan. Lagu ini sekaligus menjadi karya istimewa karena lahir dari kolaborasi Dee dengan mendiang Reza Gunawan.
Album kemudian ditutup oleh “Bintang Utara”, sebuah lagu yang berbicara tentang cinta tanpa syarat antara orang tua dan anak. Aransemen orkestral karya Lafa Pratomo menghadirkan penutup yang hangat, reflektif, sekaligus penuh harapan.
Hadir hampir dua dekade setelah album Rectoverso, (Jangan) Jatuh Cinta menegaskan posisi unik Dee Lestari sebagai penulis, pencipta lagu, sekaligus penyanyi. Delapan lagu dalam album ini tidak hanya menawarkan melodi yang kuat, tetapi juga cerita yang personal dan dekat dengan kehidupan banyak orang.***


