• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Jumat, September 18, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Dari Samarinda, Theo Nugraha Berbagi Piringan dengan Iggor Cavalera dan Para Begawan Noise Dunia

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
September 2, 2026
in Berita Terbaru
Dari Samarinda, Theo Nugraha Berbagi Piringan dengan Iggor Cavalera dan Para Begawan Noise Dunia
Share on FacebookShare on Twitter

Ada jarak ribuan kilometer antara Samarinda, London, Jepang, Amerika Serikat, dan Zaragoza. Dalam industri musik konvensional, jarak semacam itu biasanya datang bersama persoalan lain: akses, koneksi, label, sampai pertanyaan klasik tentang siapa mengenal siapa.

Di musik bawah tanah, rupanya peta bekerja sedikit berbeda. Theo Nugraha, seniman bunyi asal Samarinda yang sudah lama bergerak secara independen, muncul dalam satu rilisan bersama nama-nama yang mungkin terdengar cukup absurd bila disandingkan dalam satu kalimat: Iggor Cavalera, Incapacitants, Black Leather Jesus, dan Savage Doctrine.

Mereka dipertemukan lewat “Prosthetic Reality”, sebuah album 4-way split yang dilepas Drama Recorder, label asal Zaragoza, Spanyol. Bukan kolaborasi yang lahir dari pusat industri musik Jakarta. Bukan pula cerita seorang musisi daerah yang mesti pindah ke ibu kota terlebih dahulu supaya dianggap eksis.

Sebagian prosesnya justru berangkat dari Samarinda. Dan mungkin bagian itulah yang paling menarik.

Vinyl Prosthetic Reality

Satu Piringan, Empat Dunia yang Sama-Sama Berisik

Format split sebenarnya bukan barang asing di dunia punk, hardcore, metal, eksperimental, maupun noise. Alih-alih satu album dikuasai satu nama, beberapa musisi berbagi ruang dalam rilisan yang sama.

“Prosthetic Reality” membawa logika tersebut cukup jauh.

Sisi pertama dibuka Black Leather Jesus, kolektif noise asal Amerika Serikat, lewat “Manic Men” yang berjalan hampir sepuluh menit. Setelahnya ada Incapacitants.

Duo noise Jepang yang beranggotakan T. Mikawa dan F. Kosakai itu menyumbangkan “Release of Demon Rice”. Bagi orang-orang yang cukup lama berkubang di wilayah harsh noise, nama Incapacitants jelas bukan nama kemarin sore.

Lalu piringan berputar ke sisi lainnya. Di sana ada Iggor Cavalera lewat “Present to be Absent”, komposisi berdurasi 10 menit 53 detik yang direkam di London pada Februari 2026.

Nama terakhir ini tentu membawa bobot sejarahnya sendiri. Jauh sebelum aktivitas eksperimentalnya sekarang, Iggor dikenal sebagai mantan drummer sekaligus salah satu pendiri Sepultura—band yang punya tempat tersendiri dalam sejarah metal Brasil dan dunia.

Tapi “Prosthetic Reality” tidak berhenti pada nostalgia metal. Bagian terakhir justru membawa pendengarnya kembali ke Samarinda.

Theo Nugraha berkolaborasi dengan Savage Doctrine asal Spanyol untuk “Distortion Storm”. Theo menangani elektronik dan field recording, sementara Savage Doctrine membangun lapisan elektronik, mixing, hingga mastering. Delapan menit suara yang sekaligus menjadi titik temu Samarinda dan Spanyol.

Internet, Noise, dan Kota yang Tidak Perlu Minta Izin Jakarta

Ada kecenderungan untuk membicarakan pencapaian musisi di luar Jakarta dengan bahasa yang sedikit melelahkan.

“Musisi daerah berhasil menembus dunia.”

Seolah-olah dunia hanya bisa dimasuki setelah seseorang mendapat stempel dari ibu kota. Cerita Theo Nugraha justru lebih menarik ketika tidak dibaca dengan cara demikian.

Theonugraha

“Prosthetic Reality” menunjukkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama menjadi sifat alamiah musik bawah tanah: jaringan tidak selalu membutuhkan pusat.

Kaset bisa berpindah tangan. File suara bisa melintasi negara. Percakapan bisa dimulai dari internet. Seseorang di Samarinda bisa mengirimkan rekaman kepada seseorang di Eropa tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan industri musik nasional.

Dalam jaringan seperti ini, Samarinda bukan lagi sekadar “daerah”. Ia cuma satu titik di antara banyak titik lainnya.

Theo sendiri ikut memproduseri album bersama Antonio Drama sekaligus mengerjakan visual sampul depan “Prosthetic Reality”. Artinya, keterlibatannya tidak berhenti sebagai nama yang kebetulan mendapat satu slot lagu dalam kompilasi internasional. Ia terlibat dalam bagaimana benda tersebut akhirnya hadir secara utuh.

Dan benda fisiknya memang dibuat untuk terasa seperti artefak.

Drama Recorder hanya mencetak 100 kopi piringan hitam 12 inci 180 gram dengan pola multi-colored marble, ditambah 50 kaset analog handmade C-40 Ferro.

Jumlah yang mungkin terdengar sangat kecil jika memakai ukuran industri musik arus utama. Dalam ekosistem noise dan musik eksperimental, justru masuk akal.

Rilisan fisik bukan cuma perkara berapa banyak unit yang berhasil dijual. Ia bisa menjadi dokumentasi sebuah jaringan: bukti bahwa pada satu titik di tahun 2026, Black Leather Jesus dari Amerika Serikat, Incapacitants dari Jepang, Iggor Cavalera yang merekam bagiannya di London, Savage Doctrine dari Spanyol, dan Theo Nugraha dari Samarinda pernah berada di benda yang sama.

Dari Kamar, Ke Mana-Mana

Ada satu kalimat dalam materi pengantar “Prosthetic Reality” yang menyebut Samarinda sedang berada dalam “frekuensi global”. Kedengarannya besar. Tapi mungkin kali ini kalimat tersebut tidak sepenuhnya berlebihan.Sebab yang membuat rilisan ini menarik bukan semata-mata fakta bahwa seorang seniman Indonesia berada satu album dengan mantan drummer Sepultura.

Yang lebih menarik adalah jalur yang membawanya sampai ke sana. Tidak ada keharusan untuk mengganti Samarinda dengan Jakarta di belakang namanya. Tidak ada pula cerita bahwa seseorang harus meninggalkan kotanya lebih dulu untuk dianggap layak masuk percakapan internasional.

Yang ada hanyalah rekaman, jaringan pertemanan, etos D.I.Y., dan kegemaran kolektif terhadap suara-suara yang mungkin bagi sebagian besar orang cuma terdengar seperti keributan. Kadang memang hanya itu yang dibutuhkan. Kalau jaringan musik bawah tanah sudah bekerja sebagaimana mestinya, jarak antara kamar di Samarinda dan sirkuit noise dunia ternyata tidak sejauh yang dibayangkan.

Instagram: @theonugraha

Next Post
Tujuh Tahun Inthesky, dan Masih Ada Banyak Hal yang Layak Dihantam

Tujuh Tahun Inthesky, dan Masih Ada Banyak Hal yang Layak Dihantam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.