• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Jumat, September 18, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Tujuh Tahun Inthesky, dan Masih Ada Banyak Hal yang Layak Dihantam

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
September 2, 2026
in Berita Terbaru
Tujuh Tahun Inthesky, dan Masih Ada Banyak Hal yang Layak Dihantam

{"tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"capability_key":["edit","filter"],"filter_id":["7580248855736880401"],"client_key":"awgvo7gzpeas2ho6","template_id":"","capability_extra_v2":{"edit":[{"panel":"camera_roll"},{"panel":"composition"}],"filter":[{"resource_id":"7580248855736880401","effect_id":"7580248855736880401","origin":"heycan"}]}}","data":{"product":"retouch","playId":"","appversion":"7.7.0","filterId":"7580248855736880401","os":"ios","pictureId":"B84F88DC-D081-4DAE-B509-7E8EB94F0D33","activityName":"","stickerId":"","enter_from":"enter_launch","infoStickerId":"","imageEffectId":""},"source_type":"hypic"}

Share on FacebookShare on Twitter

Tujuh tahun biasanya cukup jadi alasan sebuah band untuk sedikit sentimental. Bikin pertunjukan perayaan, mengunggah foto-foto lama, mengingat panggung pertama, atau setidaknya menulis caption panjang tentang perjalanan yang sudah dilewati.

Inthesky memilih marah. Memasuki tahun ketujuh perjalanan mereka di skena independen, unit fusion rap/hip-hop asal Medan ini melepas “Hantam!”, sebuah nomor baru yang mempertemukan mereka dengan Tuantigabelas, Yanto Tarigan, dan F. Tarigan.

Judulnya sudah cukup menjelaskan suasana. Tidak banyak basa-basi di sini.

“Hantam!” lahir dari kegelisahan Inthesky melihat situasi sosial-politik di sekitar mereka. Ketika ruang publik semakin gaduh oleh persoalan ketidakadilan, pembatasan suara, dan kebenaran yang diperebutkan, mereka memilih melakukan sesuatu yang paling masuk akal bagi sebuah kelompok musik: membuat keributan versi mereka sendiri.

Bukan berarti setiap musisi wajib berubah menjadi komentator politik setiap kali keadaan negara sedang tidak baik-baik saja. Tapi diam juga merupakan pilihan. Dan kali ini, Inthesky jelas tidak mengambil pilihan tersebut.

Bagi mereka, “Hantam!” ditempatkan sebagai semacam respons darurat. Sebuah pengingat sederhana bahwa kata mungkin bisa disensor, tetapi fakta jauh lebih sulit disuruh diam.

Artwork Hantam!

Ketika Trap Bertemu Karo

Untungnya, kemarahan dalam “Hantam!” tidak berhenti sebagai slogan.

Secara musikal, Inthesky membawa lagu ini ke wilayah yang memang sudah lama menjadi bagian dari cara mereka bekerja: mempertemukan sesuatu yang modern dengan sesuatu yang dekat dengan akar mereka sendiri.

Ketukan hip-hop dan trap menjadi fondasi, tetapi di sela-selanya hadir instrumen tradisional Karo.

Pertemuan keduanya bukan sekadar ornamen agar lagu terdengar “lokal”. Ada gagasan yang lebih menarik di baliknya. Tradisi ditempatkan bukan sebagai benda museum yang harus terus dijaga agar tetap steril, melainkan sesuatu yang masih bisa dibengkokkan, dibenturkan, dan digunakan untuk berbicara tentang keadaan hari ini.

Dengan kata lain: kalau kritik sosial bisa datang lewat rap dan dentuman sub-bass, kenapa instrumen tradisional tidak boleh ikut membuat gaduh?

Di depan, Xaverius Tarigan berbagi ruang dengan Tuantigabelas. Keduanya membawa rap yang padat di atas konstruksi musik yang memang dibuat untuk bergerak.

Sementara itu, bagian belakang “Hantam!” dibangun cukup ramai. Mikha Siburian mengisi keys dan synths, Maurice Yosua mengurus bass sekaligus sub-bass programming, sedangkan Gopas Valentino menangani drum programming dan sampling.

Hasilnya adalah lagu yang tidak mencoba memilih antara menjadi modern atau terdengar dekat dengan tempat asalnya. Ia mengambil keduanya.

Medan Tidak Harus Jadi Catatan Kaki

Ada sesuatu yang menarik ketika musik daerah berhenti memperlakukan identitas lokal sebagai aksesori.

Dalam banyak rilisan, unsur tradisional gampang sekali berakhir sebagai tempelan: beberapa detik bunyi instrumen etnik, sedikit visual yang dianggap mewakili “kearifan lokal”, lalu selesai.

“Hantam!” mencoba mengambil jalan berbeda.

Akar Karo justru ditempatkan di tengah bahasa musik kontemporer yang digunakan Inthesky. Bukan untuk romantisasi masa lalu, tetapi untuk membicarakan sesuatu yang sangat sekarang.

Pendekatan tersebut terasa masuk akal melihat perjalanan Inthesky sendiri.

Selama tujuh tahun, kolektif multidisiplin asal Medan ini memang bergerak dengan mencampurkan estetika modern, elemen organik, dan narasi yang tumbuh dari lingkungan mereka sendiri. Kali ini, formula tersebut dipakai untuk sesuatu yang jauh lebih konfrontatif.

Visualnya pun dikerjakan dengan semangat serupa. Artwork “Hantam!” digarap Marcello Ryandra Takain dari ketjil.collective, sementara video liriknya diproduksi Jusuf Habibie Pasaribu dari CBR Studio.

Sampul lagunya sendiri cukup sulit dilewatkan begitu saja: seorang astronaut berhadapan dengan harimau di tengah vegetasi yang lebat. Aneh, sedikit sureal, dan cocok dengan musik yang memang tidak terlalu tertarik bermain aman.

Tujuh Tahun, Tanpa Tiup Lilin

Barangkali bagian paling menarik dari perilisan “Hantam!” justru datang dari waktunya. Lagu ini muncul tepat ketika Inthesky mencapai usia tujuh tahun.

Mereka sebenarnya punya cukup alasan untuk menjadikan momen tersebut sebagai perayaan tentang diri sendiri. Sebaliknya, mereka menggunakan ulang tahun itu untuk melihat keluar.

Ke keadaan sekitar. Ke ruang publik. Ke hal-hal yang membuat mereka kesal. Pilihan semacam itu membuat “Hantam!” terasa lebih masuk akal daripada sekadar lagu protes yang kebetulan datang pada waktu yang tepat. Setidaknya, setelah tujuh tahun berjalan bersama, Inthesky tampaknya masih percaya musik bisa menjadi tempat untuk mencatat apa yang sedang terjadi di luar studio.

Apakah satu lagu mampu membereskan keadaan? Tentu tidak. Lagu protes tidak otomatis mengubah kebijakan, sebagaimana satu verse rap tidak akan mendadak menyelesaikan seluruh ketidakadilan.

Tapi musik sejak dulu memang tidak selalu bekerja dengan cara seperti itu. Kadang fungsinya jauh lebih sederhana: memastikan sebuah kegelisahan tidak lewat begitu saja tanpa sempat dicatat. Dan untuk urusan itu, Inthesky memilih satu kata yang rasanya sudah cukup:

Hantam.

“Hantam!” mulai diperkenalkan melalui kanal YouTube resmi Inthesky dan Tuantigabelas pada 26 Juni 2026, sebelum menyusul ke berbagai platform streaming digital pada 1 Juli 2026.

Instagram: @inthesky.band

Next Post
Réjizz Sudah Selesai Membayangkan Masa Depan. Sekarang Ia Hidup di Dalamnya

Réjizz Sudah Selesai Membayangkan Masa Depan. Sekarang Ia Hidup di Dalamnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.