• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Jumat, September 18, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Joshua Loing Tahu Kita Tak Akan Pernah Sepenuhnya Mengerti Hidup Orang Lain

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
September 4, 2026
in Berita Terbaru
Joshua Loing Tahu Kita Tak Akan Pernah Sepenuhnya Mengerti Hidup Orang Lain
Share on FacebookShare on Twitter

Ada kebiasaan yang agak menyebalkan ketika manusia mendengarkan cerita orang lain: kita ingin segera memahaminya.

Seseorang bercerita tentang kehilangan, lalu kita mencari kehilangan kita sendiri. Seseorang bicara tentang sakit, kita buru-buru bilang pernah merasakan hal serupa. Barangkali semuanya dilakukan dengan niat baik. Tapi ada satu persoalan kecil: pengalaman orang lain tidak selalu membutuhkan kita untuk ikut memilikinya.

Kadang tugas kita cuma mendengarkan.

Kurang lebih dari wilayah itulah Joshua Loing membangun A Replica Of, A Partial Accuracy, album terbarunya sekaligus karya yang terasa paling personal dalam perjalanan musiknya sejauh ini. Joshua, seorang songwriter dan recording artist, sejak awal menggunakan musik sebagai cara untuk mendekati cerita milik orang lain—tanpa berpura-pura bahwa cerita tersebut kemudian menjadi miliknya.

Kedengarannya sederhana. Praktiknya tentu jauh lebih rumit.

Sebab semakin lama kita mendengarkan seseorang, semakin sulit menentukan batas antara menjadi saksi dan ikut merasakan apa yang sedang diceritakan.

Dan Joshua tampaknya tertarik pada batas yang kabur itu.

Mendekat Tanpa Merasa Paling Mengerti

A Replica Of, A Partial Accuracy berangkat dari proses Joshua mendengarkan cerita orang lain sampai jarak antara pengamat dan pengalaman perlahan terasa samar. Dari sana, ia masuk ke sejumlah wilayah yang tidak ringan: penyakit, ingatan, womanhood, duka, sampai tubuh sebagai tempat pengalaman meninggalkan bekasnya.

Namun album ini tidak terlihat tertarik menjadi buku panduan tentang bagaimana manusia seharusnya menghadapi semua itu.

Joshua justru membiarkan banyak hal tetap menggantung.

Tidak semua rasa sakit harus diterjemahkan menjadi pelajaran hidup. Tidak semua kehilangan perlu diberi kesimpulan inspiratif. Dan tidak semua pengalaman manusia harus selesai dalam empat menit lagu.

Ada sesuatu yang terasa cukup dewasa dari keputusan semacam ini. Terutama di tengah kebiasaan kita menjadikan hampir segala pengalaman sebagai konten yang harus punya pesan moral pada bagian akhir.

Joshua memilih tinggal sedikit lebih lama bersama sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya.

Dekat, tetapi tidak mengklaim. Personal, tetapi masih menyisakan jarak. Itulah posisi yang menjadi salah satu fondasi utama album ini.

Musik yang Tidak Perlu Berteriak untuk Terasa Dekat

Secara musikal, Joshua bukan orang yang tiba-tiba menemukan pendekatan ini kemarin sore.

Sejak rilisan-rilisan sebelumnya, ia sudah membangun musik dari fondasi penulisan lagu berbasis akustik. Di sekelilingnya kemudian muncul gitar baroque, detail orkestra, serta tekstur elektronik yang ditempatkan dengan cukup subtil.

Alih-alih menumpuk semuanya sampai terdengar megah, elemen-elemen tersebut justru memberi ruang bagi cerita untuk bernapas.

Ada sedikit bayangan keintiman emosional Elliott Smith dalam cara album ini mendekati pendengarnya—bukan semata karena musik yang personal, melainkan karena rasanya seperti mendengarkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan terlalu keras.

Diskografi Joshua sendiri memperlihatkan perjalanan yang cukup panjang menuju titik tersebut. Ia memulai dengan album Almost Sounds Sincere pada 2020, dilanjutkan Strictly Platonic pada 2022 dan EP Unadored. pada 2024, sebelum akhirnya sampai pada A Replica Of, A Partial Accuracy pada 2026.

Bahkan secara visual, ada sesuatu yang menarik dari bagaimana album terbaru ini ditempatkan. Sampul A Replica Of, A Partial Accuracy yang terlihat pada halaman diskografi di profil Joshua dipenuhi figur-figur kecil yang mengelilingi sebuah ruang kosong, hampir seperti sekumpulan karakter sedang berkumpul mengitari sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat kita lihat.

Cukup pas untuk album yang banyak berbicara tentang keterbatasan memahami pengalaman manusia.

Cover Album A ReplicaOf,A Partial Accuracy

Sebuah Replika Memang Tidak Pernah Menjadi Aslinya

Judul A Replica Of, A Partial Accuracy sendiri mungkin sudah memberi petunjuk terbesar mengenai apa yang sedang Joshua lakukan.

Sebuah replika bisa menyerupai sesuatu.

Tetapi ia tetap bukan benda aslinya.

Begitu pula ketika kita mencoba memahami kehidupan orang lain. Kita bisa mendengarkan ceritanya selama berjam-jam, mengingat setiap detailnya, bahkan ikut menangis ketika mendengarnya. Namun pada akhirnya, pemahaman kita tetap merupakan rekonstruksi. Ada bagian yang hilang. Ada rasa yang tidak bisa dipindahkan begitu saja dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Dan mungkin Joshua tidak sedang berusaha memperbaiki keterbatasan itu.

Ia menerimanya.

Ada satu kalimat dari “A Place Without Pronouns” yang ikut disertakan dalam profil Joshua: tentang begitu banyak hidup yang terbuang karena seseorang menjalani ideal milik orang lain, sampai akhirnya berharap bisa mendapatkan waktunya kembali.

Kalimat tersebut terasa punya hubungan yang menarik dengan keseluruhan gagasan album ini.

Karena mungkin memahami seseorang memang tidak harus berakhir dengan menjadi seperti mereka.

Empati tidak selalu berarti, “gue tahu persis rasanya.”

Kadang bentuk empati yang lebih jujur justru jauh lebih sederhana:

“Gue mungkin enggak akan pernah tahu persis rasanya. Tapi gue mau mendengarkan.”

Dan A Replica Of, A Partial Accuracy tampaknya cukup nyaman hidup di ruang kecil antara dua kalimat tersebut.

Instagram: @joshualoingmusic

Next Post
The Joos

The Joo’s Membuka Pintu ‘Eksibisi Makhluk Aneh’, dan Manusia Jadi Tontonan Utamanya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.