• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Kamis, November 5, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Mighfar Suganda Membicarakan Hidup, Patah Hati, dan Segala Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan Lewat “Semesta Nirvana”

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
Oktober 15, 2026
in Berita Terbaru
Mighfar Suganda Membicarakan Hidup, Patah Hati, dan Segala Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan Lewat “Semesta Nirvana”

{"source_type":"vicut","data":{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"18.8.0","enterFrom":"home_draft","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"6JJD71CF-9N06-7H7A-IUAG-VSNPYJNCFC2S","pictureId":"6JJD71CF-9N06-7H7A-IUAG-VSNPYJNCFC2S","capability_name":"capcut_photo_editor,capcut_image_filters"},"tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"18.8.0","enterFrom":"home_draft","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"6JJD71CF-9N06-7H7A-IUAG-VSNPYJNCFC2S","pictureId":"6JJD71CF-9N06-7H7A-IUAG-VSNPYJNCFC2S","capability_name":"capcut_photo_editor,capcut_image_filters"}"}

Share on FacebookShare on Twitter

Ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak pernah kita minta, tetapi tetap harus kita hadapi. Kehilangan orang yang disayang, rencana yang berantakan, hubungan yang kandas, sampai kenyataan bahwa tidak semua usaha akan berakhir seperti yang kita bayangkan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan membaik selama kita terus berusaha. Sayangnya, semesta tidak selalu bekerja dengan cara sesederhana itu.

Keresahan semacam inilah yang menjadi titik berangkat Mighfar Suganda dalam mini album terbarunya, Semesta Nirvana. Melalui dua lagu, “Semesta” dan “Nirvana”, penyanyi sekaligus penulis lagu ini mencoba merangkum sesuatu yang barangkali terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam sebuah rilisan musik: perjalanan manusia sejak mengenal kebahagiaan, jatuh cinta, kehilangan harapan, hingga akhirnya belajar menerima kenyataan.

Mighfar bukan nama yang sepenuhnya asing bagi pendengar musik Indonesia, khususnya mereka yang akrab dengan lagu-lagu melankolis dan cerita tentang pergulatan batin. Lewat “Gemuruh Riuh” dan “Anti Hero”, ia berhasil menjangkau pendengar yang cukup luas di berbagai platform digital. Dalam materi siaran persnya, Mighfar bahkan disebut telah mengumpulkan ratusan juta pemutaran dan penayangan di berbagai platform.

Namun, alih-alih menjadikan pencapaian tersebut sebagai alasan untuk terus mengulang formula yang sama, Semesta Nirvana justru memperlihatkan keinginan Mighfar untuk membawa musiknya ke wilayah yang lebih personal sekaligus ambisius.

Dua lagu dalam EP ini dirancang memiliki keterkaitan cerita. “Nirvana” menjadi gambaran tentang cinta, harapan, dan sesuatu yang terasa begitu sempurna, sementara “Semesta” hadir sebagai pengingat bahwa kehidupan nyata tidak selalu memberikan akhir yang kita inginkan.

Ada semacam benturan antara apa yang kita impikan dan apa yang akhirnya harus kita terima. Dan di antara keduanya, manusia sering kali menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari jawaban.

Secara musikal, Mighfar juga mencoba keluar dari kebiasaannya. Jika lagu-lagu sebelumnya banyak menggunakan birama 4/4, “Semesta” dibangun dengan ketukan 6/8. Perubahan ini memberi ruang bagi komposisi yang lebih mengalun, dengan pendekatan melankolis yang sengaja dirancang untuk memperkuat perjalanan emosional lagunya.

Artwork – Semesta Nirvana

Menjelang bagian akhir, kehadiran paduan suara menjadi salah satu elemen penting. Bukan sekadar memperbesar intensitas musik, tetapi juga membawa gagasan tentang kebersamaan manusia dalam menghadapi kesulitan hidup. Seolah ada banyak suara yang mengingatkan bahwa betapapun beratnya keadaan, kehidupan tetap layak dijalani.

Sementara itu, “Nirvana” menawarkan perspektif yang berbeda. Lagu ini berbicara tentang cinta dalam bentuk yang begitu dalam hingga batas antara perasaan kepada sesama manusia dan hubungan spiritual dengan Tuhan menjadi samar. Mighfar membiarkan pendengarnya menafsirkan sendiri kepada siapa sebenarnya perasaan tersebut ditujukan.

Kedua lagu ini juga dikonsep agar dapat didengarkan secara berurutan sebagai satu perjalanan musikal yang menyambung. Pendekatan tersebut membuat Semesta Nirvana tidak sekadar menjadi kumpulan dua lagu dengan tema serupa, melainkan sebuah cerita yang saling melengkapi.

Yang satu berbicara tentang keindahan harapan. Yang lainnya memperlihatkan bagaimana harapan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Menariknya, Mighfar tidak berhenti pada medium musik. Ia juga menyiapkan novel pertamanya berjudul Semesta bersama Penerbit Aksara. Novel tersebut dirancang untuk memperluas cerita dan gagasan yang muncul dalam lagu-lagunya, sekaligus memberi ruang lebih panjang bagi berbagai pengalaman emosional yang sulit dijelaskan hanya melalui lirik.

Keputusan untuk membawa satu gagasan ke dalam musik dan sastra memperlihatkan bahwa Semesta Nirvana memang diposisikan sebagai proyek yang lebih luas daripada rilisan musik biasa. Ada keinginan untuk membangun sebuah dunia cerita, tempat setiap lagu dan bab memiliki hubungan dengan pengalaman manusia yang berbeda-beda.

Pendekatan serupa juga diterapkan dalam konsep video musik “Semesta”. Dengan latar alam terbuka dan pendekatan teatrikal, video tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan melalui dua karakter yang dipertemukan di sebuah dermaga.

Pertemuan yang awalnya membawa kehangatan perlahan berkembang menjadi cerita tentang cinta yang tidak mendapatkan restu karena perbedaan agama. Kehadiran dua karakter tersebut menjadi simbol tentang bagaimana manusia saling menemukan, mencintai, lalu pada suatu titik harus berhadapan dengan perpisahan.

Pergantian karakter yang berdiri sendirian di lokasi yang sama juga digunakan untuk menggambarkan siklus kehidupan. Manusia datang dan pergi, generasi terus berganti, tetapi persoalan yang mereka hadapi sering kali tidak jauh berbeda. Tentang keluarga, hubungan, persahabatan, kehilangan, dan usaha untuk memahami diri sendiri.

Mungkin zaman berubah, tetapi cara manusia merasa kesepian tidak pernah benar-benar jauh berbeda.

Di balik seluruh konsep tersebut, Semesta Nirvana juga memiliki hubungan dengan perjalanan pribadi Mighfar. Dalam siaran persnya, ia mengungkap bahwa perjalanan bermusiknya dimulai dari periode sulit pada 2020, ketika ia mengalami krisis personal yang sangat berat. Keputusannya meninggalkan pekerjaan dan mulai menulis lagu menjadi bagian dari upayanya mencari jalan untuk pulih.

Dari sana, musik perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada ruang untuk menampung perasaan pribadi. Lagu-lagunya menemukan pendengar yang merasa memiliki pengalaman serupa, membangun hubungan melalui cerita tentang kegagalan, kehilangan, dan usaha untuk bertahan.

Barangkali itulah yang membuat tema-tema dalam Semesta Nirvana terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin tidak mengalami kejadian yang persis sama, tetapi hampir semua orang pernah berada dalam situasi ketika kenyataan terasa terlalu berat untuk diterima.

Dan ketika hal itu terjadi, nasihat untuk tetap kuat atau berpikir positif tidak selalu menjadi jawaban yang kita butuhkan.

Melalui “Semesta”, Mighfar justru mencoba melihat kehidupan sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar hitam dan putih. Ada keputusan yang terasa benar pada satu waktu, tetapi berubah menjadi penyesalan di kemudian hari. Ada impian yang harus dilepaskan, hubungan yang tidak bisa dipertahankan, dan kenyataan bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya.

Hidup, pada akhirnya, memang dipenuhi wilayah abu-abu yang sering kali harus kita jalani tanpa mengetahui apakah pilihan kita sudah tepat.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Semesta Nirvana berusaha mempertahankan satu gagasan utama: bahwa kehidupan tetap memiliki nilai, bahkan ketika segala sesuatu terasa berantakan.

Bukan berarti kesedihan harus dirayakan atau penderitaan selalu menyimpan pelajaran besar. Terkadang, sesuatu yang menyakitkan memang hanya menyakitkan. Tidak semua kehilangan memiliki alasan yang bisa dipahami, dan tidak setiap kegagalan harus dipaksakan menjadi cerita tentang keberhasilan.

Namun, manusia tetap punya kemungkinan untuk melanjutkan hidup, menemukan hubungan baru, dan perlahan membangun kembali sesuatu yang sebelumnya terasa hancur.

Lewat dua lagu yang saling terhubung, Mighfar Suganda mencoba menangkap kontradiksi tersebut. Tentang keinginan untuk hidup bahagia dan kenyataan bahwa kesedihan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan. Tentang mencintai sesuatu dengan sepenuh hati, sekaligus belajar menerima kemungkinan bahwa suatu hari kita harus melepaskannya.

Pada akhirnya, Semesta Nirvana bukan hanya berbicara tentang bagaimana manusia menghadapi dunia, tetapi juga bagaimana mereka menghadapi dirinya sendiri.

Sebab mungkin persoalan terbesar dalam hidup bukan selalu tentang menemukan kebahagiaan, melainkan belajar menerima bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan semuanya.

Dan selama masih ada hari esok, cerita itu belum benar-benar selesai.

Acess Social Media

Instagram : @mighfarsuganda | TikTok : @mighfarsuganda  | All DSP : Mighfar Suganda YouTube : Mighfar Suganda

Next Post
Tama Yuri dan Seni Berpura-pura Beruntung di Tengah Hidup yang Berantakan

Tama Yuri dan Seni Berpura-pura Beruntung di Tengah Hidup yang Berantakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.