Ada satu fase hidup ketika bangun pagi bukan lagi perkara mengejar mimpi, tapi sekadar memastikan hari ini masih bisa lewat dengan cukup aman. Kerja, pulang, nongkrong sebentar, menghitung uang yang entah kenapa selalu terasa kurang, lalu bertanya dalam hati: sebenarnya hidup mau dibawa ke mana?
Kalau pertanyaan itu terasa familiar, mungkin TARR! juga sedang memikirkan hal yang sama.
Dua tahun setelah melepas “02.50”, kuartet punk rock asal Purwokerto ini akhirnya datang membawa album penuh pertama mereka, BERANTAKAN. Isinya delapan lagu dengan durasi total sekitar 22 menit cukup singkat untuk sebuah album, tapi mungkin memang tidak perlu panjang-panjang kalau yang hendak dibicarakan adalah hidup yang dari sananya sudah cukup ruwet.
BERANTAKAN tumbuh dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian: kehidupan kampung kota. Tentang orang-orang yang bekerja supaya besok masih bisa makan, masa depan yang belum tentu jelas arahnya, sampai kebiasaan menertawakan keadaan karena kadang itu satu-satunya respons masuk akal yang tersisa.
TARR! tidak berusaha membungkus semua itu menjadi sesuatu yang terdengar kelewat puitis. Mereka justru memilih bahasa yang terasa seperti percakapan sehari-hari. Gitar dan bass dibiarkan kasar, drum bergerak catchy, sementara fondasi punk rock yang selama ini mereka bawa tetap berdiri di tengah semuanya.
Tidak ada pretensi untuk menjadi soundtrack revolusi besar.
Kadang masalahnya memang lebih sederhana atau justru lebih menyebalkan dari itu.
Bagaimana caranya tetap waras ketika hidup terasa begitu-begitu saja? Bagaimana menghadapi pekerjaan yang dilakukan demi bertahan, bukan karena sebuah panggilan mulia? Dan bagaimana menerima kenyataan bahwa tidak semua pertanyaan tentang masa depan punya jawaban sebelum tidur malam ini?
Menariknya, BERANTAKAN juga tidak mencoba menjadi motivator.
Album ini tidak datang untuk menepuk pundak sambil bilang semuanya pasti baik-baik saja. Ia lebih mirip teman nongkrong yang duduk di sebelah, ikut mengeluh sebentar, lalu tertawa karena sadar besok pagi tetap harus bangun dan menjalani semuanya lagi.
Mungkin justru di situ letak daya tariknya.

Keresahan dalam album ini memang berangkat dari sudut kontrakan di gang sempit sebuah permukiman padat di Purwokerto, tetapi persoalan yang dibawanya rasanya tidak membutuhkan KTP kota tertentu untuk dipahami. Tumbuh di tempat yang tidak terlalu besar, mencari uang, melihat teman-teman perlahan memilih jalannya masing-masing, dan sesekali mempertanyakan apakah kita tertinggal atau memang hidup tidak pernah punya garis start yang sama pengalaman semacam itu bisa terjadi di mana saja.
TARR! sendiri dihuni Zaqi Fatahilah pada vokal, Setyo Adi Nugroho pada gitar, Yoga Azis pada bass, dan Naufal Alif pada drum. Setelah dikenal lewat “02.50”, mereka menghabiskan kurang lebih dua tahun menulis dan merekam materi yang akhirnya menjadi album pertama ini. BERANTAKAN direkam, di-mixing, dan di-mastering di Studio72pwt, dengan artwork dikerjakan oleh Alfiannk.
Tapi angka dua tahun barangkali bukan bagian paling penting dari cerita ini.
Yang lebih menarik adalah bagaimana empat orang dari skena independen Purwokerto memilih merekam kegelisahan yang sebenarnya sangat biasa dan karena begitu biasa, justru terasa dekat.
BERANTAKAN tidak menjanjikan jalan keluar.
Tidak ada delapan langkah menuju hidup yang lebih mapan. Tidak ada kalimat bahwa umur sekian harus sudah punya ini dan itu. Tidak ada juga kesimpulan heroik bahwa semua penderitaan pasti membuat seseorang menjadi lebih kuat.
Kadang hidup ya memang berantakan.
Dan mungkin, sebelum buru-buru membereskannya, kita boleh duduk sebentar, menyetel album punk rock 22 menit, lalu menertawakan kekacauan itu bersama-sama.
BERANTAKAN sudah tersedia di berbagai layanan streaming digital.
Instagram: @tarr.tarr.tarr



