• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Sabtu, September 19, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Depresi Demon Membongkar Dosa yang Susah Dihapus Lewat “Luminol”

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
September 8, 2026
in Berita Terbaru
Depresi Demon Membongkar Dosa yang Susah Dihapus Lewat “Luminol”
Share on FacebookShare on Twitter

Dua dekade setelah terbentuk di Medan, Depresi Demon masih percaya pada grunge, rilisan fisik, dan sisi buruk manusia yang tidak selalu bisa disembunyikan. Single terbaru mereka, “Luminol”, berangkat dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana kalau dosa meninggalkan bekas seperti darah?

Ada satu masalah dengan noda darah: dibersihkan bukan berarti benar-benar hilang.

Dalam dunia forensik, luminol bisa digunakan untuk membantu memunculkan kembali jejak darah yang sudah dibersihkan atau disamarkan. Sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat tiba-tiba menyala dan menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di sana.

Depresi Demon mengambil gagasan itu, lalu membawanya ke wilayah yang jauh lebih manusiawi.

Bagaimana kalau yang berusaha kita hapus bukan darah, melainkan dosa?

Pertanyaan itu menjadi jantung dari “Luminol”, single terbaru trio grunge asal Medan yang sekaligus menjadi pintu masuk menuju album keempat mereka dengan judul yang sama. Dalam lagu ini, darah ditempatkan sebagai analogi dosa, sementara luminol menjadi sesuatu yang membongkar kembali apa yang selama ini berusaha ditutupi manusia.

Premisnya sederhana, tetapi cukup mengganggu.

Sebab manusia memang punya bakat luar biasa dalam urusan menyembunyikan kekacauan sendiri. Kita membersihkan jejak, merapikan cerita, lalu tampil seolah semuanya baik-baik saja. Masalahnya, sesuatu yang sudah terjadi tidak selalu ikut lenyap hanya karena tidak lagi terlihat.

Dan “Luminol” bermain di wilayah tersebut.

Luminol Artwork

Alih-alih bicara tentang manusia sebagai makhluk yang luhur dan sempurna, Depresi Demon justru membalik gagasan itu. Lagu ini menjadi semacam pengingat bahwa di balik segala label tentang kesempurnaan manusia, selalu ada bagian yang kotor, cacat, dan mungkin sengaja disembunyikan.

Sejumlah kutipan dari Ali bin Abi Thalib yang dianggap relevan dengan tema tersebut turut disisipkan ke dalam lirik. Bukan sebagai tempelan dekoratif, tetapi sebagai bagian dari gagasan besar tentang dosa, introspeksi, dan ketidaksempurnaan manusia yang sedang mereka bongkar.

Bagi Depresi Demon, wilayah gelap semacam ini sebenarnya bukan tempat baru.

Band yang dihuni Aga pada gitar dan vokal, Fatta pada bass, serta Madan pada drum itu sudah berjalan sejak 2005. Dua puluh satu tahun tentu bukan waktu sebentar untuk mempertahankan sebuah band—apalagi band grunge independen dari Medan.

Mereka melewati zaman ketika orang masih membeli CD, kemudian kaset kembali menjadi benda yang diburu, sementara cara manusia mendengarkan musik berubah berkali-kali.

Depresi Demon tetap berjalan.

EP Nothing menjadi salah satu penanda awal perjalanan mereka ketika dirilis mandiri dalam format CD pada 2011. Sembilan tahun kemudian, rilisan tersebut bahkan mendapat kehidupan kedua setelah Yui Records asal Malang menerbitkannya kembali dalam format kaset. Setelah itu datang Manekin pada 2013, disusul Chaos Grunge beberapa tahun kemudian. Mereka juga pernah menjalankan tur mandiri yang membawa musiknya melintasi Medan, Pekanbaru, Batam, dan Padang pada 2018.

Ada sesuatu yang cukup keras kepala dari perjalanan seperti itu.

Ketika banyak hal dalam industri musik bergerak menuju sesuatu yang semakin cepat, Depresi Demon masih mempertahankan hubungan dengan medium fisik. Album Luminol pun direncanakan hadir dalam format CD.

Mungkin itu terdengar seperti keputusan kecil. Tapi untuk band yang telah berjalan sejak pertengahan 2000-an, pilihan tersebut seperti meneruskan sebuah kebiasaan: lagu bukan cuma sesuatu yang lewat beberapa menit di aplikasi streaming, tetapi benda yang bisa disimpan, diputar, dan suatu hari ditemukan lagi di antara tumpukan barang.

Sementara “Luminol” sendiri sudah lebih dulu dilepas ke platform digital pada 6 Agustus 2026. Video musiknya menyusul sehari kemudian, 7 Agustus. Album dengan judul yang sama diwacanakan hadir dalam format CD pada September 2026.

Artwork rilisan yang ditampilkan dalam profil mereka pun tidak mencoba terlihat manis. Seekor serangga memenuhi bagian tengah gambar dengan visual kasar berwarna dingin, sementara nama Depresi Demon berdiri besar di sebelahnya. Di halaman terakhir profil itu bahkan hanya ada tiga kata:

GRUNGE STILL ALIVE.

Pernyataan yang mungkin terdengar klise kalau datang dari band yang baru membeli pedal distorsi minggu lalu.

Tapi Depresi Demon sudah memainkan musik ini sejak 2005.

Jadi setelah dua dekade, barangkali mereka memang tidak perlu sibuk membuktikan apakah grunge masih hidup atau tidak.

Mereka tinggal menyalakan luminol.

Lalu melihat jejak apa saja yang selama ini belum benar-benar hilang.

Instagram: @depresidemon

Next Post
Pee Wee Gaskins, Boniex, dan Rumah yang Perlahan Runtuh dari Dalam

Pee Wee Gaskins, Boniex, dan Rumah yang Perlahan Runtuh dari Dalam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.