Waktu kecil, menjadi orang dewasa terdengar seperti sesuatu yang menyenangkan. Bisa menentukan pilihan sendiri, pergi ke mana saja tanpa perlu meminta izin, dan menjalani hidup dengan kebebasan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun, setelah benar-benar sampai di fase tersebut, kenyataannya sering kali jauh lebih rumit.
Ada tanggung jawab yang terus bertambah, hubungan yang berubah, rencana yang tidak selalu berjalan sesuai harapan, dan berbagai hal yang harus diterima meskipun sebenarnya belum siap.
Barangkali perasaan semacam itulah yang sedang coba diurai Gavendri melalui album keduanya, Sympathy/Empathy.
Penyanyi dan penulis lagu soul/R&B asal Pamulang ini kembali dengan sebuah album yang berangkat dari pengalaman personalnya menghadapi kehidupan dewasa. Melalui sebelas lagu, Gavendri membicarakan kehilangan, pertumbuhan, harapan, hingga usaha menerima berbagai perubahan yang datang seiring bertambahnya usia.
Alih-alih menjadikan kedewasaan sebagai fase ketika seseorang akhirnya memahami segalanya, Sympathy/Empathy justru bergerak dari kenyataan yang sebaliknya. Bahwa semakin banyak pengalaman yang dilewati, semakin banyak pula hal yang ternyata tidak memiliki jawaban sederhana.
Salah satu lagu yang cukup mewakili gagasan tersebut adalah “On & On”.
Lagu ini lahir dari keinginan untuk kembali menjadi anak-anak. Bukan semata-mata karena masa kecil selalu lebih indah, tetapi karena ada sesuatu dari fase tersebut yang perlahan menghilang ketika seseorang mulai disibukkan oleh berbagai tuntutan kehidupan.
Rasa penasaran yang dulu muncul begitu saja, keberanian mencoba sesuatu tanpa terlalu memikirkan hasilnya, atau kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa merasa harus selalu produktif.
Hal-hal kecil yang mungkin baru terasa berharga ketika kita mulai kehilangan waktu untuk menikmatinya.

Melalui “On & On”, Gavendri mencoba melihat kembali perasaan tersebut. Ada kerinduan terhadap kehidupan yang terasa lebih sederhana, tetapi juga kesadaran bahwa waktu tidak bisa benar-benar diputar mundur.
Menariknya, hubungan Gavendri dengan dunia anak-anak ternyata tidak hanya hadir sebagai gagasan dalam lagu.
Di luar aktivitas bermusik, ia juga mengajar Broadway musical theatre untuk anak-anak. Pengalaman tersebut kemudian dibawa ke dalam rencana video musik “On & On”, yang melibatkan murid-muridnya sendiri sebagai pemeran.
Video musik tersebut mengambil inspirasi dari Linda Linda Linda, film Jepang yang cukup lekat dengan cerita tentang masa muda, persahabatan, dan pengalaman sederhana yang meninggalkan kesan panjang.
Dengan pendekatan visual yang ceria dan penuh nostalgia, Gavendri seperti ingin mempertemukan dua dunia yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya: musik dan pendidikan.
Pilihan tersebut terasa menarik karena kerinduan terhadap masa kecil tidak hanya dibicarakan melalui lirik, tetapi juga diterjemahkan lewat kehadiran anak-anak yang masih menjalani fase kehidupan yang sedang ia kenang.
Di satu sisi, ada orang dewasa yang mencoba mengingat kembali perasaan ketika masih kecil. Di sisi lain, ada anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami mengapa kehidupan dewasa bisa terasa begitu melelahkan.
Pertemuan dua perspektif itu memberi lapisan personal pada “On & On”, tanpa harus menjadikannya sebuah cerita nostalgia yang berlebihan.
Namun, Sympathy/Empathy tidak berhenti pada persoalan keinginan kembali ke masa kecil.
Dari tema besar yang diangkat, album ini juga mencoba membicarakan bagaimana manusia menghadapi kehilangan, perubahan, dan berbagai pengalaman yang perlahan membentuk cara mereka memahami diri sendiri.
Judul Sympathy/Empathy sendiri membuka ruang pembacaan yang cukup menarik.
Simpati dan empati sering kali digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, padahal keduanya memiliki nuansa yang berbeda. Ada jarak antara merasa kasihan terhadap pengalaman seseorang dan berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Dalam konteks kehidupan dewasa, perbedaan tersebut menjadi semakin relevan. Tidak semua orang membutuhkan nasihat ketika sedang menghadapi masalah. Terkadang, yang diperlukan hanyalah seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa buru-buru memberikan jawaban.
Meski demikian, album ini tidak harus dibaca sebagai upaya Gavendri menjelaskan perbedaan dua konsep tersebut secara harfiah. Judulnya justru bisa menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pengalaman personal dan hubungan antarmanusia saling memengaruhi.
Secara musikal, Gavendri tetap bergerak dalam wilayah soul dan R&B yang menjadi bagian dari identitasnya. Album ini diproduseri Muhammad Luthfi Adianto atau Melon, sementara proses mixing dan mastering ditangani Mochamad Iqbal Prabowo, yang dikenal sebagai Macdalen. Foto artwork album dikerjakan oleh Juan Akbar.
Sympathy/Empathy juga hadir pada fase perjalanan musikal Gavendri yang terus berkembang.
Sebelumnya, EP debutnya, Tired, pernah mendapatkan pengakuan sebagai Album Terbaik Pop Hari Ini. Sementara itu, kolaborasinya bersama Tuantigabelas melalui “The Party Is Over” memperoleh nominasi AMI Awards untuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Soul/R&B Terbaik.
Pada 2026, Gavendri juga menjalani penampilan internasional pertamanya melalui All of the Noise Festival di Makati, Filipina. Ia turut meraih posisi runner-up dalam Mastercard Music Accelerator, program pengembangan musisi yang melibatkan Mastercard, TikTok, dan SoundOn.
Di luar pencapaian tersebut, aktivitasnya juga tidak terbatas pada musik rekaman. Selain mengajar, Gavendri aktif dalam komunitas freestyle hip-hop dance A Vibe Called Love Jakarta, yang menjadi bagian lain dari eksplorasinya terhadap musik, gerak, dan seni pertunjukan.
Berbagai aktivitas itu memperlihatkan bahwa perjalanan kreatifnya tidak hanya berlangsung di studio. Ada pengalaman yang datang dari ruang kelas, komunitas, panggung, dan interaksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Dalam konteks tersebut, Sympathy/Empathy terasa seperti sebuah usaha untuk merangkum sebagian pengalaman yang datang bersama perubahan hidup.
Tentu saja, membicarakan kehidupan dewasa melalui musik bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Banyak musisi telah mengangkat persoalan kehilangan arah, nostalgia masa kecil, atau kegelisahan menghadapi masa depan.
Namun, tema-tema semacam ini terus menemukan relevansinya karena setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengalaminya.
Ada yang merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Ada yang harus mengubur rencana lama karena keadaan berubah. Ada pula yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya sendiri.
Di tengah berbagai pengalaman tersebut, keinginan untuk kembali menjadi anak kecil mungkin bukan sesuatu yang benar-benar ingin diwujudkan.
Bisa jadi, yang dirindukan bukan usianya, melainkan perasaan ketika hidup belum dipenuhi begitu banyak kekhawatiran.
Melalui Sympathy/Empathy, Gavendri mencoba memberikan ruang bagi perasaan-perasaan tersebut tanpa harus selalu menawarkan penyelesaian.
Sebab, menjadi dewasa tidak otomatis membuat seseorang lebih pandai menghadapi kehilangan, lebih siap menerima perubahan, atau lebih mudah memahami orang lain.
Kadang, bertambah usia hanya berarti kita belajar menjalani semua itu sambil terus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan.
Dan mungkin, di tengah segala tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja, mengakui bahwa menjadi orang dewasa ternyata cukup melelahkan bukanlah sesuatu yang buruk.
Access Gavendri
Instagram : @gavendri | TikTok : @gavendri | All DSP : GAVENDRI | YouTube : GAVENDRI



