Ada fase ketika seorang musisi berhenti bertanya bagaimana caranya terdengar keren, lalu mulai bertanya: musik apa yang sebenarnya paling jujur terhadap dirinya sendiri?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi Una Eterna, jawabannya justru datang dari sesuatu yang berantakan. Bukan dari referensi musik elektronik Eropa, bukan pula dari formula yang selama ini dianggap “benar” dalam skena elektronik independen. Sebaliknya, ia kembali membuka memori yang selama bertahun-tahun mengendap begitu saja—funkot yang diputar di pinggir jalan, reggae, dangdut, hardcore, breakcore, sampai kultur internet yang datang silih berganti tanpa pernah meminta izin.
Semuanya kemudian hidup berdampingan di SOUNDSYSTEM EVANGELIST, album penuh pertamanya bersama Anti Trust Records.
Alih-alih terdengar seperti eksperimen yang dibuat demi mengejutkan pendengar, album ini justru terasa seperti catatan perjalanan seseorang yang akhirnya berdamai dengan selera musiknya sendiri. Una Eterna tidak lagi sibuk memilih mana referensi yang dianggap “berkelas” dan mana yang terlalu receh. Semua dibiarkan berbicara dengan bahasa yang sama.
Di tangan banyak produser elektronik, benturan semacam ini biasanya akan dirapikan agar terdengar lebih aman. Una memilih jalan sebaliknya. Ia membiarkan funkot bertubrukan dengan breakcore, ritme hardcore muncul di tengah nuansa reggae, lalu internet culture menyelinap tanpa perlu meminta penjelasan.
Yang lahir bukan sekadar album elektronik, melainkan lanskap bunyi yang terasa sangat akrab bagi siapa pun yang tumbuh di Indonesia.
Di saat banyak musisi elektronik masih berkiblat pada estetika futuristik dari luar negeri, SOUNDSYSTEM EVANGELIST justru menemukan masa depannya dari sesuatu yang sangat lokal. Album ini seolah mengingatkan bahwa musik dansa Indonesia selalu punya keberanian untuk terdengar liar tanpa harus mencari legitimasi dari mana pun.
Sebagian besar materi dalam album ini diproduksi sendiri oleh Una dari kamar tidurnya. Pendekatan DIY yang selama ini melekat pada praktik kreatifnya tidak hanya terdengar dalam musik, tetapi juga terlihat pada artwork yang ia kerjakan sendiri. Beberapa nama turut hadir di proses produksinya, termasuk Cahya Nugraha yang menangani mixing dan mastering untuk “RIDDIM ‘N’ BASS”, serta emmcare pada salah satu lagu lainnya. Namun secara keseluruhan, album ini tetap terasa sebagai dunia yang dibangun sendiri oleh Una.

Meski dipenuhi ledakan suara dan tabrakan referensi, ada sisi yang jauh lebih personal di balik album ini. Una menyebut Mbah Surip sebagai sosok yang pertama kali mengenalkannya pada musik ketika masih berusia empat tahun. Dari titik itu, SOUNDSYSTEM EVANGELIST berubah menjadi sesuatu yang lebih intim daripada sekadar eksplorasi genre. Ia menjadi semacam surat terima kasih—untuk musik pertama yang ia dengar, untuk komunitas yang menemaninya bertumbuh, dan untuk orang-orang yang membuat proses kreatifnya terus berjalan.
Barangkali itu pula yang membuat album ini tidak terdengar seperti upaya mengejar tren.
Ia lebih menyerupai arsip tentang bagaimana seseorang tumbuh di tengah begitu banyak suara: dari dangdut yang terdengar di hajatan, reggae yang mengalun dari warung kopi, funkot yang memenuhi jalanan, hingga internet yang setiap hari mempertemukan semuanya dalam satu layar.
Di tangan Una Eterna, semua kontradiksi itu tidak pernah benar-benar perlu diselesaikan. Karena mungkin memang tidak ada yang salah dengan kekacauan, selama kita tahu bagaimana cara mendengarkannya.
SOUNDSYSTEM EVANGELIST dirilis pada 24 Juli 2026 melalui Bandcamp dan Subvert.fm, sekaligus menjadi album penuh pertama Una Eterna bersama Anti Trust Records.
Instagram: @un.eterna


