Setiap kota memiliki bunyinya sendiri. Ada suara kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti, percakapan yang datang dan pergi, hingga kebisingan yang perlahan menjadi latar bagi kehidupan sehari-hari. Di kota seperti Jakarta, bunyi-bunyi itu bukan lagi sekadar latar, melainkan bagian dari cara seseorang menjalani hidup.
Gagasan itu menjadi titik awal Jiwa Krungu, album penuh perdana dari 8110118.
Dalam bahasa Jawa, Jiwa Krungu berarti “jiwa yang terdengar”. Judul tersebut berangkat dari konsep Jiwa Ketok yang diperkenalkan pelukis Indonesia Soedjojono—sebuah gagasan bahwa karya seni seharusnya mampu memperlihatkan kondisi batin penciptanya. Alih-alih menerjemahkan konsep itu secara visual, 8110118 memilih menjadikannya sebagai pengalaman mendengar.
Selama tujuh komposisi di album ini, pendengar diajak memasuki ruang yang dipenuhi berbagai lapisan suara. Tidak hanya instrumen musik, tetapi juga field recording dan tekstur sonik lain yang membangun suasana. Bunyi-bunyi tersebut hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian dari cerita yang ingin disampaikan.

Di balik eksplorasi tersebut, Jiwa Krungu lahir dari pengalaman hidup di tengah arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti. Era yang menuntut seseorang untuk terus bergerak, terus merespons, dan terus menerima rangsangan baru setiap saat. Jakarta, dengan ritmenya yang padat dan nyaris tanpa jeda, menjadi lanskap yang membentuk cara album ini berbunyi. Alih-alih mencoba melarikan diri dari kebisingan itu, 8110118 justru mengolahnya menjadi bagian dari komposisi.
Pendekatan tersebut membuat Jiwa Krungu terasa seperti sebuah dokumentasi tentang bagaimana seseorang bernegosiasi dengan ruang tempat ia hidup. Bukan sekadar album instrumental atau eksperimen bunyi, melainkan upaya menerjemahkan pengalaman sehari-hari ke dalam medium suara.
Album ini berisi tujuh komposisi, yakni Embong, Jago Kandang, Jalur Merah, Leang-Leang, Pralina, Awan Ketidaktahuan, dan V4-4. Lagu terakhir menjadi bagian dari proyek internasional Century of Sounds yang digagas oleh Cities and Memory bersama Pitt Rivers Museum, menggunakan rekaman lapangan karya Louis Sarno yang digunakan atas izin museum tersebut.
Seluruh proses produksi, mulai dari komposisi, perekaman, mixing, mastering, hingga desain sampul, dikerjakan sendiri oleh 8110118. Kemandirian tersebut membuat Jiwa Krungu terasa personal, seolah setiap bunyi yang terdengar memang lahir dari ruang yang sama: pengalaman hidup sang musisi di tengah kota yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Instagram: @oo11011oo
Bandcamp: 8110118



