SONICPOP.ASIA — Dari sudut Kota Bengawan, lahir entitas musik keras bernama Morkthull. Band yang terbentuk pada Juli 2025 ini muncul bukan dari ambisi industri musik, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi, obrolan malam, hingga jeda para personelnya dari band masing-masing. Dari situ, lahir ledakan musik chaotic, sludge, dan hardcore yang kini mulai menarik perhatian skena musik bawah tanah.
Diperkuat Vincent pada vokal, Ryno di bass, Driz di gitar, dan Cho di drum, Morkthull membawa karakter musik kasar, padat, dan agresif tanpa kompromi. Warna musik mereka dipengaruhi band-band ekstrem seperti Full of Hell, Nails, hingga Code Orange, namun diramu ulang menjadi identitas yang lebih liar dan personal.
Pada Agustus 2025, mereka merilis demo album berisi tujuh lagu: Prelude, False Promise, Feast of Death, Jihad, Grease, Genesis 19, dan The Darkside of Mankind.
Tak sekadar menampilkan teriakan dan distorsi brutal, materi dalam demo tersebut mengangkat tema sosial yang gelap dan penuh kritik. Mulai dari kekuasaan yang membusuk, kerakusan manusia, kerusakan alam, perang, hingga kemunafikan yang bersembunyi di balik simbol-simbol suci.
Morkthull menyebut karya mereka bukan hadir untuk memberi jawaban, melainkan menjadi “cermin retak” atas realitas yang selama ini diabaikan banyak orang.
Nuansa suram itu juga terasa dalam identitas visual dan pendekatan artistik mereka. Morkthull menggambarkan dirinya sebagai “residu gelap dari kebisingan dunia”, sebuah manifestasi keresahan yang diterjemahkan menjadi suara ekstrem dan penuh amarah.
Demo perdana mereka kini sudah dapat didengarkan melalui platform Bandcamp di laman Menikam Diri Record. Sementara aktivitas dan perkembangan terbaru band dapat dipantau melalui akun Instagram resmi @morkthvll.
Meski baru seumur jagung, Morkthull mengaku sudah menyiapkan sejumlah materi baru yang direncanakan rilis pada pertengahan tahun ini. Mereka pun memberi pesan singkat yang terdengar seperti ancaman sekaligus ajakan kepada para pendengarnya:
“Jangan mati saat menunggu ini.”


