Ada beberapa kalimat yang sebenarnya sederhana, tapi entah kenapa susah sekali keluar ketika orangnya ada tepat di depan kita.
“Gue bangga sama lo,” salah satunya.
Mungkin karena terdengar terlalu serius. Mungkin karena pertemanan kita telanjur dibangun dari ledek-ledekan, obrolan ngalor-ngidul, dan kebiasaan pura-pura tidak peduli. Atau mungkin memang ada orang-orang yang lebih nyaman menyimpan perasaan semacam itu sedikit lebih lama.
Petra Sihombing sepertinya termasuk yang terakhir.
Di single terbarunya, “Bangga”, Petra mengambil perasaan yang sering berhenti di kepala tadi dan menjadikannya lagu. Bukan cerita cinta dalam pengertian yang paling gampang ditebak, melainkan rasa senang ketika melihat seseorang yang sudah kita kenal lama yang perjuangannya pernah kita saksikan dari dekat akhirnya sampai pada sesuatu yang selama ini ia kejar.
Sederhana, memang. Tapi justru di situ lagu ini bekerja.
Petra sendiri mengaku bukan tipe orang yang gampang mengutarakan hal-hal semacam itu ketika sedang bersama teman. Saat nongkrong, ia lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Musik kemudian menjadi semacam jalan memutar untuk mengatakan sesuatu yang barangkali akan terasa kikuk kalau disampaikan sambil duduk berhadapan.

Dan mungkin itu pula yang membuat “Bangga” terasa dekat dengan keseharian. Kita mungkin pernah punya seorang teman yang dahulu sama-sama tidak tahu hidup mau dibawa ke mana. Pernah melihatnya gagal, mencoba lagi, hilang sebentar, lalu muncul dengan kabar baik. Kita ikut senang. Cuma ya begitu kadang mentok di respons, “Wih, mantap.”
Padahal yang sebenarnya ingin dikatakan jauh lebih panjang.
Menariknya, lagu yang bicara tentang kedekatan ini juga lahir dengan cara yang cukup dekat dan spontan. Petra menyebut “Bangga” sebagai rilisan mendadak pertamanya. Tidak mengikuti ritme kerja yang biasanya ia jalani. Ia hanya merasa momennya tepat dan lagu tersebut perlu segera dilepas.
Lingkaran pengerjaannya pun terasa seperti perpanjangan dari cerita lagu itu sendiri.
Tulisan “Bangga” pada artwork dibuat dengan bantuan anak Petra. Firrina Sinatrya, istrinya, mengisi backing vocal. Abenk Alter dan Rendy Pandugo ikut terlibat dalam prosesnya, sementara Moko Aguswan menangani mixing dan mastering. Petra sendiri memegang banyak bagian: vokal, drum, keys, bass, synthesizer, hingga gitar elektrik bersama Rendy Pandugo.
Hasil akhirnya terasa seperti sesuatu yang memang seharusnya tidak dibuat terlalu rumit.
Sebab “Bangga” pada dasarnya berbicara tentang satu gestur kecil yang sering kita tunda: memberi tahu seseorang bahwa kita melihat usahanya. Bahwa perjalanan panjangnya ternyata diperhatikan. Bahwa ketika akhirnya sesuatu berjalan baik untuknya, ada orang lain yang diam-diam ikut senang.
Dan barangkali kita memang terlalu jarang mengatakan itu.
Kalau mengucapkannya langsung masih terasa kelewat canggung, Petra sudah menyediakan cara lain.
Tinggal kirim lagunya.
Petra Sihombing Access :
Instagram : @petra_sihombing | TikTok : @petra_sihombing| YouTube : Petra Sihombing | All DSP : Petra Sihombing



