Di zaman ketika jumlah likes bisa menentukan suasana hati dan algoritma seolah punya hak mengatur hidup seseorang, EVNFLO mempertanyakan satu hal: sebenarnya kita sedang menjadi diri sendiri atau sekadar memainkan karakter yang disukai internet?
Ada masa ketika orang berdandan karena ingin terlihat menarik saat keluar rumah. Sekarang, urusannya bisa sedikit lebih rumit. Memilih pakaian, menentukan tempat nongkrong, sampai memesan makanan kadang tidak lagi semata-mata soal selera. Ada pertimbangan lain yang ikut masuk: apakah semuanya cukup bagus untuk diunggah ke Instagram?
Tentu tidak semua orang menjalani hidup dengan cara seperti itu. Namun, sulit menyangkal bahwa media sosial telah mengubah bagaimana sebagian dari kita memandang diri sendiri. Sesuatu yang awalnya hanya menjadi tempat berbagi foto dan cerita perlahan berkembang menjadi ruang tempat orang berlomba menunjukkan versi terbaik dari kehidupannya.
Persoalan inilah yang diangkat EVNFLO melalui single bertajuk “Manipulasi Diri”.
Alih-alih membicarakan hubungan asmara atau patah hati yang sudah terlalu sering menjadi bahan bakar lagu populer, EVNFLO memilih menyoroti hubungan manusia dengan citra dirinya sendiri. Terutama ketika citra tersebut mulai dibentuk oleh sesuatu yang bahkan tidak benar-benar kita kendalikan: algoritma.
Hari ini seseorang bisa merasa cukup percaya diri dengan penampilannya. Besok, setelah menghabiskan waktu berjam-jam melihat TikTok, perasaan itu bisa berubah hanya karena menemukan puluhan orang yang terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau seolah menjalani kehidupan yang jauh lebih menyenangkan.
Padahal, yang muncul di layar belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Kita hanya melihat potongan-potongan yang sengaja dipilih untuk ditampilkan. Bagian yang berantakan, membosankan, atau tidak cukup menarik biasanya tidak mendapat tempat dalam unggahan.
Namun, anehnya, potongan kehidupan orang lain itu justru sering dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Melalui “Manipulasi Diri”, EVNFLO mencoba membicarakan bagaimana kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dapat perlahan mengubah cara seseorang bersikap, berpakaian, bahkan memandang dirinya sendiri.
Media sosial tentu bukan satu-satunya penyebab. Keinginan untuk diterima oleh lingkungan sudah ada jauh sebelum Instagram dan TikTok ditemukan. Bedanya, sekarang kebutuhan tersebut hadir bersama angka-angka yang bisa dilihat secara langsung.
Jumlah pengikut, likes, views, dan komentar menjadi semacam rapor sosial yang terus diperbarui setiap hari.
Sebuah unggahan yang mendapat banyak perhatian bisa membuat seseorang merasa dihargai. Sebaliknya, ketika respons yang datang tidak sesuai harapan, muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup melelahkan: apa yang salah dengan diri kita?
Di titik ini, kritik EVNFLO terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, manipulasi yang mereka bicarakan bukan selalu tentang seseorang yang sengaja menipu orang lain.
Kadang, orang justru melakukannya terhadap dirinya sendiri.
Kita mulai menyesuaikan selera dengan apa yang sedang populer. Mengikuti tren yang sebenarnya tidak terlalu disukai. Mengubah cara berbicara agar terdengar lebih menarik. Bahkan, dalam beberapa situasi, merasa perlu menyembunyikan bagian dari diri sendiri karena dianggap tidak sesuai dengan standar yang sedang berlaku.
Semua dilakukan demi satu hal yang terdengar sederhana: diterima.
Masalahnya, standar tersebut tidak pernah benar-benar menetap.

Apa yang dianggap keren hari ini bisa menjadi bahan olok-olok beberapa bulan kemudian. Tren berpakaian berubah, gaya hidup berganti, dan internet selalu menemukan sesuatu yang baru untuk dirayakan sekaligus ditinggalkan.
Akibatnya, seseorang bisa terus berlari mengejar sesuatu yang garis akhirnya bahkan tidak pernah jelas.
Dalam “Manipulasi Diri”, EVNFLO menggambarkan kondisi tersebut sebagai distorsi identitas. Ketika terlalu banyak energi dihabiskan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, batas antara kepribadian asli dan karakter yang dibangun untuk konsumsi publik menjadi semakin sulit dibedakan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar apakah seseorang sedang berpura-pura di media sosial. Persoalannya jauh lebih rumit ketika kepura-puraan tersebut dilakukan cukup lama hingga terasa seperti sesuatu yang alami.
Seseorang mungkin awalnya hanya ingin terlihat lebih percaya diri dalam unggahan. Namun, ketika respons positif terus berdatangan, muncul dorongan untuk mempertahankan karakter tersebut, bahkan ketika kehidupan sebenarnya tidak selalu sejalan dengan apa yang ditampilkan.
Di sinilah media sosial bekerja dengan cara yang cukup ironis. Platform yang seharusnya memberi kebebasan untuk mengekspresikan diri justru bisa menjadi tempat seseorang merasa harus mengikuti serangkaian aturan tidak tertulis.
Harus terlihat bahagia. Harus produktif. Harus punya pencapaian. Harus punya kehidupan sosial yang menarik. Kalau bisa, semuanya terdokumentasi dengan pencahayaan yang bagus.
Seolah-olah menjalani hidup saja belum cukup kalau tidak ada orang lain yang menyaksikannya.
Meski begitu, “Manipulasi Diri” tidak harus dibaca sebagai ajakan untuk memusuhi teknologi atau meninggalkan media sosial sepenuhnya. Internet tetap menyediakan banyak ruang untuk berkarya, menemukan komunitas, dan membangun hubungan dengan orang-orang yang sebelumnya sulit dijangkau.
Yang dipersoalkan EVNFLO lebih dekat pada bagaimana seseorang mulai menyerahkan penilaian terhadap dirinya kepada respons orang lain.
Sebab, ada perbedaan cukup besar antara menggunakan media sosial sebagai tempat berekspresi dan menjadikannya satu-satunya sumber pengakuan.
Kritik semacam ini mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru. Pembicaraan tentang FOMO, standar kecantikan, dan budaya validasi digital sudah berlangsung cukup lama. Namun, kenyataan bahwa persoalan tersebut terus muncul dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya selesai menghadapinya.
Lewat “Manipulasi Diri”, EVNFLO setidaknya mencoba mengajak pendengarnya memeriksa kembali hubungan mereka dengan dunia digital.
Bukan untuk menentukan siapa yang paling autentik atau siapa yang paling berhasil menghindari pengaruh tren. Lagi pula, hampir semua orang pernah ingin terlihat sedikit lebih menarik di hadapan orang lain.
Barangkali yang lebih penting adalah menyadari kapan keinginan tersebut mulai mengambil alih cara kita memandang diri sendiri.
Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar salah dengan mengunggah foto bagus, mengikuti tren, atau merasa senang ketika mendapat banyak likes.
Yang jadi masalah adalah ketika semua itu berubah menjadi syarat untuk merasa cukup sebagai manusia.
Dan mungkin, di tengah kebiasaan menghabiskan waktu melihat kehidupan orang lain melalui layar, pertanyaan yang dibawa EVNFLO dalam “Manipulasi Diri” memang layak sesekali diajukan kepada diri sendiri:
Kalau tidak ada yang melihat, tidak ada yang menyukai, dan tidak ada yang memberikan komentar, apakah kita masih ingin menjadi orang yang sama?
Instagram: @evnflo | All DSP: EVNFLO



