• Berita Terbaru
  • Youtube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan
Jumat, November 6, 2026
sonicpop.asia
No Result
View All Result
No Result
View All Result
sonicpop.asia
No Result
View All Result

Asmara, Lampu Kelap-Kelip, dan Sembilan Orang yang Belum Selesai dengan Cinta

Sonic Pop Asia by Sonic Pop Asia
Oktober 7, 2026
in Berita Terbaru
Asmara, Lampu Kelap-Kelip, dan Sembilan Orang yang Belum Selesai dengan Cinta
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang menarik dari pasar malam. Lampunya kelewat terang, musiknya sering bertabrakan dari segala arah, orang-orang datang membawa uang receh dan pulang entah dengan boneka, plastik berisi jajanan, atau perasaan yang sedikit berbeda dari saat mereka masuk.

Freekoria rupanya melihat tempat semacam ini sebagai lokasi yang cukup masuk akal untuk membicarakan cinta.

Dalam album perdana mereka, Asmara Pasar Malam, Freekoria membangun sebuah dunia kecil bernama Hoya-Hoya pasar malam fiktif di Desa Bukit Sari yang menjadi tempat sembilan manusia dengan sembilan perkara asmara saling bersinggungan. Album yang dirilis pada 2 Oktober 2026 ini berisi sembilan lagu, tetapi alih-alih memperlakukannya sebagai kumpulan track yang berdiri sendiri, Freekoria membuatnya terasa seperti sembilan pintu menuju kehidupan orang-orang yang kebetulan berada di tempat yang sama.

Dan seperti pasar malam pada umumnya, tidak semuanya berakhir dengan membawa pulang hadiah.

Ada Aryadi, misalnya. Lewat “Mantra”, ia menjadi representasi manusia yang mungkin paling sering kita temui: punya perasaan, tetapi tidak punya cukup nyali untuk mengatakan apa-apa. Lalu datang Cimpring dalam “My Side”, yang berada di sisi lain perkara tersebut ketika perasaan akhirnya mendapat jawaban dan seseorang mulai berani mempertaruhkan semuanya.

Jumiran punya urusan berbeda. Dalam “Jangan Kembali”, ia sudah berdamai dengan masa lalu. Setidaknya begitulah kelihatannya. Permintaannya sederhana: kalau memang sudah pergi, ya sudah. Tidak usah kembali dan mengacak-acak sesuatu yang susah payah sudah dibereskan.

Dari sana, Hoya-Hoya mulai terasa bukan sekadar gimmick untuk membungkus album. Ia seperti desa kecil tempat kita mengenal orang-orangnya sedikit demi sedikit.

Jatmiko memilih terus berjalan dan merayakan hidup melalui “Pesta”. Hartini, lewat “24/7”, berhadapan dengan salah satu ironi cinta yang menyebalkan: selalu ada untuk seseorang ternyata tidak otomatis membuat orang itu memilih tinggal. Sementara Warto dalam “Imajinasiku” memilih wilayah yang mungkin jauh lebih aman kepalanya sendiri. Tempat cinta bisa berkembang sesuka hati tanpa harus repot berhadapan dengan kenyataan.

Freekoria Album Artwork

Kalau enam orang tadi masih cukup sibuk dengan perkara hati, Yatini terdengar seperti orang yang sudah malas ikut rapat. Dalam “Dendang Ceria”, kesendirian bukan ditempatkan sebagai tragedi yang harus segera diselesaikan. Ia justru dirayakan. Sebuah pengingat kecil bahwa hidup sendirian tidak selalu berarti sedang menunggu seseorang datang.

Kemudian ada Marno yang membawa “Keliling Kota”. Lucunya, perjalanan ini justru membawa kita menjauh dari hiruk-pikuk kota dan masuk ke jalanan desa pada malam hari. Rasanya seperti mengambil motor tanpa tujuan jelas, mengitari jalan yang sama berkali-kali, hanya karena malam belum ingin disudahi.

Sampai akhirnya Hairul dan Ruhaida muncul lewat “U&I”.

Setelah delapan cerita tentang perasaan yang dipendam, keberanian, masa lalu, pesta, ketidaksetiaan, khayalan, kesendirian, dan perjalanan tanpa banyak tujuan, Freekoria memberikan sedikit kemenangan. Hairul dan Ruhaida menemukan tempat bagi cinta mereka untuk tinggal.

Tidak semua orang di Hoya-Hoya seberuntung itu.

Mungkin justru di situlah Asmara Pasar Malam terasa menyenangkan. Freekoria tidak berusaha membuat cinta menjadi sesuatu yang kelewat agung. Di sini cinta lebih mirip pasar malam itu sendiri: ramai, norak dalam kadar yang tepat, kadang menyenangkan, kadang bikin pusing, dan hampir selalu membuat seseorang pulang membawa cerita.

Sembilan karakter di dalam album ini juga membuat cinta kehilangan wajah generiknya. Kita tidak hanya mendengar lagu tentang patah hati atau jatuh cinta; kita mengikuti Aryadi, Cimpring, Jumiran, Jatmiko, Hartini, Warto, Yatini, Marno, sampai Hairul dan Ruhaida. Nama-nama yang terdengar seperti orang yang mungkin saja kita kenal, atau setidaknya pernah kita lihat duduk di warung sambil menunggu malam lewat.

Pada akhirnya, Asmara Pasar Malam seperti mengajak pendengarnya membeli satu tiket masuk ke Hoya-Hoya dan berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya. Mengintip kehidupan orang, mendengar sedikit perkara mereka, lalu sadar bahwa di balik lampu kelap-kelip dan keramaian itu, hampir semua orang ternyata sedang mengurus hal yang sama.

Perasaan.

Sebagian berhasil membawanya pulang. Sebagian meninggalkannya di pasar malam.

Dan sebagian lagi mungkin masih berdiri di sana, menunggu komidi putar berhenti.

All DSP: Freekoria | Instagram: freekoria

Next Post

Skyline dan Kebiasaan Buruk Kita Mengingat Orang yang Sudah Pergi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result
  • Berita Terbaru
  • YouTube
  • Instagram
  • Bandcamp
  • Kirim Tulisan/Artikel

© 2026 Sonic Pop Records.