SONICPOP.ASIA – Atsmosphere, band asal Cibinong, Bogor, merilis album terbaru berjudul Oposisi yang membawa suara keresahan anak muda ke ranah musik blues dan rock n roll. Album ini bukan sekadar karya musik, tetapi juga bentuk ekspresi kritik sosial dan realitas kehidupan yang mereka alami sehari-hari.
Band yang lahir dari tongkrongan bernama “Train Space” ini terbentuk dari kebiasaan sederhana: bermain gitar dan bernyanyi bebas. Dari situ, gitaris Iqbal atau Belzz mulai mengembangkan ide musik bersama vokalis Yaman hingga akhirnya melahirkan karya pertama mereka pada 2022.
Seiring waktu, “Train Space” berkembang menjadi ruang kreatif yang terbuka bagi banyak orang. Dari sana, Atsmosphere merilis EP Negative Blues sebelum akhirnya masuk ke fase baru lewat album Oposisi.
Album ini memuat sembilan lagu, di antaranya Oposisi, Virtualis, Inflasi, hingga Dibungkam. Tema yang diangkat cukup berani, mulai dari isu politik lokal hingga global, serta suara kelompok minoritas yang sering terpinggirkan.
“Suara kaum minoritas itu terbatas, tapi mereka tetap harus hidup bebas melalui musik,” ujar Belzz.
Formasi Atsmosphere saat ini terdiri dari Yaman (vokal), Iqbal/Belzz (gitar), Dirgam (bass), dan Adrian (drum), dengan dukungan manajer Ba Syaras Q yang juga terlibat dalam penulisan lirik.
Menariknya, seluruh proses produksi album ini dilakukan secara mandiri. Mulai dari penulisan lagu, aransemen, hingga mixing dan mastering dilakukan di markas mereka sendiri di pinggir rel Cibinong, melalui label independen Zzrecord.
Album Oposisi menjadi penanda arah baru Atsmosphere yang lebih jujur dan eksploratif dalam menyuarakan kritik sosial. Meski sempat tertunda sejak 2025 karena kendala distribusi digital, album ini akhirnya resmi dirilis pada April 2026 dan sudah tersedia di berbagai platform streaming.
Lewat Oposisi, Atsmosphere ingin menegaskan satu hal: musik bukan hanya hiburan, tapi juga ruang untuk bersuara.



