Tidak semua band lahir dari ambisi besar untuk mengubah wajah industri musik. Sebagian justru terbentuk karena terlalu sering nongkrong di studio, memainkan lagu orang lain, lalu suatu hari merasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Kurang lebih begitulah cerita awal Merpans, unit punk rock/alternative yang terbentuk pada penghujung 2021.
Mulanya, Edy Arts (vokal/gitar), Furqon (bass/backing vokal), dan Asfa (drum) hanya rutin menghabiskan waktu dengan jamming bersama teman-teman tongkrongan. Repertoarnya pun tidak jauh dari nama-nama yang akrab di telinga penggemar musik berisik: Nirvana, Black Sabbath, Sex Pistols, hingga Ramones. Namun, setelah cukup lama memainkan karya orang lain, muncul keinginan untuk membuat sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri.
Menariknya, ketika memutuskan membentuk Merpans, mereka justru memilih jalur musik yang tidak sepenuhnya sama dengan materi yang biasa dimainkan saat jamming. Punk rock dan alternative menjadi ruang baru untuk menyalurkan berbagai keresahan yang selama ini mungkin hanya berakhir sebagai obrolan tongkrongan.

Beberapa tahun setelah terbentuk, Merpans akhirnya mulai serius memikirkan album perdana. Mereka memperbanyak latihan, mengumpulkan materi, dan mencoba mengubah berbagai ide menjadi lagu. Prosesnya terbilang cepat. Dalam waktu kurang dari sebulan, sebelas lagu berhasil disiapkan untuk mengisi album edisi terbatas bertajuk Melesat Cepat Bagaimana Makian.
Judul yang terdengar seperti ajakan ribut itu rupanya cukup mewakili sikap Merpans terhadap musik mereka sendiri. Tidak ada keinginan untuk membuat semua orang senang, apalagi sibuk menyesuaikan karya dengan selera pendengar. Bagi mereka, orang bebas menyukai atau membenci apa yang mereka buat. Musik bukan perkara mencari persetujuan sebanyak mungkin.
Lewat sebelas lagu tersebut, Merpans mencoba menyuarakan kekesalan dan kejenuhan terhadap berbagai persoalan kehidupan hari ini. Sikap yang barangkali tidak terlalu asing dalam tradisi punk, ketika musik menjadi tempat untuk meluapkan sesuatu yang sulit disampaikan melalui percakapan biasa.
Dalam perjalanannya, Merpans juga melibatkan Aga Depresi, personel Depresi Demon, sebagai additional drummer. Kehadiran para personel dengan latar musikal masing-masing ikut menjadi bagian dari perjalanan band yang awalnya hanya bermodal kesenangan bermain musik bersama.
Pada akhirnya, Melesat Cepat Bagaimana Makian bukan cuma penanda bahwa Merpans akhirnya punya album sendiri. Rilisan ini juga menjadi bukti bahwa kebosanan kadang bisa menghasilkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar mencari kegiatan baru.
Dari studio tempat mereka dulu memainkan lagu Nirvana dan Ramones, Merpans kini punya sebelas lagu untuk menyampaikan kegelisahan dengan cara mereka sendiri.
Soal apakah semua orang akan menyukainya, tampaknya itu bukan urusan yang terlalu ingin mereka pikirkan.
Album Melesat Cepat Bagaimana Makian sudah bisa didengarkan melalui Spotify, YouTube, dan berbagai platform musik digital lainnya.
Instagram: @merpans2021



