Ada banyak hal yang berubah dalam dua dekade terakhir. Teknologi berkembang, cara manusia berkomunikasi semakin cepat, dan dunia seolah tidak pernah kehabisan persoalan baru. Namun, di tengah segala kemajuan itu, hubungan manusia dengan lingkungan justru masih menyisakan banyak pertanyaan.
Barangkali kegelisahan semacam itulah yang ingin disampaikan PNCL melalui single terbaru mereka, “You, Me and Earth”.
Band indie pop/post-punk asal Samarinda ini kembali dengan sebuah lagu yang mencoba melihat hubungan manusia dan alam dari sudut pandang yang tidak sepenuhnya romantis. Alih-alih sekadar mengajak pendengar untuk mencintai bumi, PNCL memilih menyoroti perubahan, kegelisahan, dan berbagai hal yang membuat kehidupan terasa semakin sulit dipahami.
Ada semacam rasa frustrasi yang muncul dalam liriknya. Tentang masa lalu yang perlahan menghilang, perubahan yang terus berlangsung, dan manusia yang seolah semakin terbiasa menyaksikan berbagai persoalan tanpa benar-benar melakukan sesuatu.
Pesan tersebut disampaikan melalui aransemen yang menggabungkan karakter indie pop dengan pendekatan post-punk yang terdistorsi. Sebuah pilihan musikal yang cukup masuk akal untuk membicarakan sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman.
Namun, “You, Me and Earth” sebenarnya bukan hanya cerita tentang sebuah band yang sedang gelisah melihat keadaan dunia. Lagu ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang PNCL, kelompok musik yang telah melewati berbagai perubahan sejak pertama kali terbentuk pada 2004.
Sebelum menggunakan nama PNCL, mereka dikenal sebagai Pencil. Dengan nama tersebut, mereka sempat merilis dua EP, Bad Woman pada 2006 dan Idealis tak Terarah pada 2011.
Setelahnya, aktivitas band harus terhenti selama sembilan tahun. Bukan karena persoalan dramatis atau konflik besar yang diumumkan ke publik, melainkan sesuatu yang mungkin cukup akrab bagi banyak musisi independen: kesibukan pekerjaan dan kehidupan masing-masing personel.
Kenyataan semacam ini sering kali menjadi bagian yang jarang dibicarakan ketika membahas perjalanan sebuah band. Tidak semua musisi punya kesempatan untuk menjadikan musik sebagai pekerjaan utama. Ada tagihan yang harus dibayar, tanggung jawab yang bertambah, dan waktu luang yang semakin sulit ditemukan.

Bagi sebagian kelompok musik, keadaan seperti itu bisa menjadi akhir perjalanan. Namun, bagi PNCL, jeda panjang tersebut ternyata bukan penutup cerita.
Pada 18 September 2020, mereka kembali melalui single “Berapa Lama”, sekaligus meninggalkan nama Pencil dan memperkenalkan identitas baru sebagai PNCL.
Enam tahun setelah momentum tersebut, mereka kembali menghadirkan “You, Me and Earth”, sebuah lagu yang menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
Menariknya, tema perubahan yang dibicarakan dalam lagu ini juga terasa memiliki hubungan dengan perjalanan band itu sendiri.
Selama 22 tahun, PNCL tentu telah menyaksikan banyak hal berganti. Bukan hanya perkembangan musik dan perubahan skena independen, tetapi juga bagaimana kehidupan perlahan membawa setiap orang menuju fase yang berbeda.
Di tengah perjalanan tersebut, gagasan tentang hubungan manusia dengan bumi menjadi sesuatu yang cukup relevan untuk dibicarakan.
Sebab, persoalan lingkungan sering kali terdengar seperti isu besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kita mendengar tentang kerusakan alam, perubahan iklim, atau berbagai persoalan ekologis melalui berita dan media sosial. Namun, seberapa sering semua informasi itu benar-benar membuat kita mempertanyakan kebiasaan sendiri?
Melalui “You, Me and Earth”, PNCL tampaknya ingin membawa pertanyaan tersebut ke wilayah yang lebih personal.
Lagu ini tidak hadir sebagai penjelasan ilmiah tentang kerusakan lingkungan. Ia lebih menyerupai luapan kegelisahan terhadap keadaan dunia yang terus berubah, sementara manusia terkadang hanya menjadi penonton dari perubahan itu sendiri.
Ada nada protes yang cukup terasa, terutama ketika lagu tersebut mempertanyakan sikap manusia dalam menghadapi keadaan di sekitarnya.
Tentu saja, sebuah lagu tidak akan serta-merta menyelesaikan persoalan lingkungan. Musik juga tidak selalu harus memiliki jawaban atas masalah yang diangkatnya. Namun, ia bisa menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan yang mungkin juga dirasakan orang lain.
Dalam proses produksinya, “You, Me and Earth” ditulis oleh Ifan, yang juga mengisi posisi vokal. Ia bersama Adhi dan Zai pada gitar, Alung pada bass, serta Dian pada drum membangun aransemen lagu ini secara kolektif.
Proses rekamannya turut melibatkan Delly Afriadi untuk perekaman drum, Arie Wardhana sebagai recording engineer, serta Rizki Wahyudi yang menangani mixing dan mastering. Lagu ini dirilis melalui Slomo Records.
PNCL juga menghadirkan video musik yang dikerjakan oleh Denny Irawan dan Windra Gunawan pada bagian sinematografi, dengan penyuntingan oleh Denny Irawan.
Kehadiran video musik tersebut memperluas cara PNCL menyampaikan gagasan di balik “You, Me and Earth”, yang kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital.
Bagi sebuah band yang telah berjalan lebih dari dua dekade, merilis lagu baru mungkin bukan lagi semata-mata tentang mengejar pencapaian atau membuktikan eksistensi.
Ada hal lain yang barangkali lebih penting: menjaga alasan mengapa mereka masih ingin membuat musik.
Dalam kasus PNCL, alasan tersebut kali ini muncul melalui kegelisahan terhadap hubungan manusia dengan alam dan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
“You, Me and Earth” memang tidak menawarkan solusi besar atas berbagai persoalan dunia. Namun, setidaknya lagu ini mengajak pendengarnya untuk mempertanyakan sesuatu yang sering dianggap biasa.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, keberanian untuk terus mempertanyakan keadaan justru menjadi hal yang masih layak dipertahankan.
Setelah 22 tahun, PNCL rupanya belum kehabisan alasan untuk bersuara.
Instagram: @pncl.official | All DSP: PNCL



