Ada hubungan yang selesai karena salah satu pihak selingkuh. Ada yang kandas karena jarak. Ada pula yang bubar pelan-pelan karena dua orang akhirnya sadar bahwa mereka memang sudah tidak ingin berada di tempat yang sama.
Lalu ada jenis hubungan lain yang sedikit lebih menyebalkan:
Sama-sama capek. Sama-sama tahu ada yang tidak beres. Bertengkar untuk persoalan yang itu-itu lagi. Berkali-kali kepikiran untuk pergi.
Tapi besoknya masih bersama.
Kalau situasi ini terdengar terlalu familiar, KELJO rupanya sedang membicarakan hal yang sama lewat single terbarunya, “Cinta/Candu.”
Judulnya sendiri sudah memberi sedikit petunjuk tentang kekacauan yang sedang dibahas. Ada garis yang makin kabur antara mencintai seseorang dan sekadar tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa keberadaan orang tersebut.
Dan dua hal itu ternyata tidak selalu sama.
“Cinta/Candu” berangkat dari hubungan yang sudah lama kehilangan kenyamanan. Pertengkaran datang berulang kali, tetapi bukannya menjadi alasan untuk mengakhiri semuanya, konflik justru berubah menjadi bagian dari rutinitas.
Marah. Diam-diaman. Baikan.
Lalu ulang lagi dari awal.
Sampai suatu titik, kekacauan itu terasa normal.
KELJO menyebut rasa terbiasa sebagai salah satu alasan seseorang bisa terus tinggal dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat. Bukan karena mereka tidak menyadari masalahnya, melainkan karena setelah terlalu lama hidup bersama seseorang, membayangkan kehidupan tanpa orang itu kadang terasa lebih menakutkan daripada menjalani satu pertengkaran lagi.
Di situlah “Cinta/Candu” menemukan bagian yang paling menarik.
Ia tidak terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Tidak pula datang membawa sepuluh tanda pasangan toxic yang harus segera kamu tinggalkan.

Lagu ini lebih tertarik pada wilayah abu-abu yang jauh lebih tidak nyaman: ketika seseorang sebenarnya sudah sadar ada sesuatu yang rusak, tapi kesadaran saja ternyata belum cukup untuk membuatnya pergi.
Sebab manusia memang punya hubungan yang agak aneh dengan kebiasaan.
Kita bisa mengeluhkan sesuatu setiap hari dan tetap panik ketika sesuatu itu hilang.
Hubungan pun kadang bekerja seperti itu. Setelah bertahun-tahun, seseorang bukan cuma menjadi pasangan. Ia ikut masuk ke dalam rutinitas: orang pertama yang dikabari, nama yang dicari ketika bangun tidur, teman makan, teman pulang, sampai orang yang diajak bertengkar soal persoalan yang sama untuk kesekian kalinya.
Ketika semua itu hilang, yang harus dilepaskan bukan cuma manusianya.
Ada satu kehidupan kecil yang ikut dibongkar.
Maka “candu” dalam judul lagu ini menjadi metafora yang cukup masuk akal. Sesuatu tidak harus membuat kita bahagia untuk membuat kita sulit meninggalkannya.
Secara musikal, KELJO justru tidak membungkus kegelisahan tersebut dengan musik yang sepenuhnya muram. “Cinta/Candu” bergerak lewat R&B yang bertemu hip-hop dan sentuhan dangdut. Beat-nya dinamis, sementara elemen R&B dan perkusi memberi ruang bagi lagu ini untuk tetap bergerak meski persoalan yang dibicarakannya cukup kusut.
Pilihan itu membuat kontradiksi kecil yang menyenangkan.
Topiknya: hubungan yang melelahkan.
Musiknya: masih mengajak badan bergerak.
Tapi mungkin memang begitu cara sebagian orang menghadapi kekacauan emosional. Tidak semua patah hati harus ditemani piano minor dan hujan buatan di kaca jendela.
Untuk penggarapannya, KELJO memegang langsung posisi produser dan kembali bekerja bersama Xerikho serta Devin Adamn sebagai co-producer. Dua nama terakhir sebelumnya juga terlibat dalam “Putri Iklan”. Devin mengisi drum, sementara Xerikho menangani perkusi.
Namun pada akhirnya, produksi yang rapi bukan bagian paling mengganggu dari “Cinta/Candu”.
Justru gagasan sederhananya yang tertinggal:
Berapa banyak hubungan sebenarnya sudah selesai jauh sebelum orang-orang di dalamnya berani mengakuinya?
Dan berapa banyak orang yang masih bertahan bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena sudah terlalu hafal dengan kekacauan yang sama?
Kita sering membayangkan cinta sebagai alasan seseorang memilih tinggal. Padahal setelah waktu berjalan cukup lama, batas antara cinta, takut kehilangan, kesepian, dan kebiasaan bisa menjadi sangat tipis.
Kadang seseorang masih bertahan karena cinta.
Kadang karena belum siap sendirian.
Dan kadang jawabannya jauh lebih tidak romantis:
Karena sudah terbiasa.
“Cinta/Candu” dari KELJO sudah tersedia di berbagai platform musik digital, sementara video musik resminya telah tayang melalui kanal YouTube KELJO.
Access KELJO
Instagram : @kelvinjojo | TikTok : @keljokeljo | All DSP : Keljo | YouTube : KELJO



