Penyangkalan tidak selalu datang dengan kamar gelap, lagu sedih, atau seseorang yang menghabiskan malam dengan mempertanyakan hidupnya. Kadang bentuknya justru lebih menyenangkan: pergi keluar, membuat diri sibuk, bernostalgia, dan meyakinkan diri bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Kurang lebih kontradiksi itulah yang dibawa Tigarist dalam single terbaru mereka, “Oh My”.
Alih-alih membuat lagu muram untuk membicarakan sesuatu yang jelas-jelas tidak menyenangkan, Tigarist memilih funk-pop yang riuh, ritmis, dan terdengar jauh lebih ringan. Di balik itu, “Oh My” sebenarnya bercerita tentang seseorang yang belum siap menerima keadaan dirinya sendiri.
Lagu ini menjadi pembuka menuju EP mendatang mereka, Oh My Julee, Maybe I Was Lost In Prophecy, sebuah proyek yang menggunakan Five Stages of Grief sebagai kerangka ceritanya. Lima fase tersebut akan diterjemahkan melalui lima sudut emosi berbeda, dengan “Oh My” menempati bagian paling awal: denial.

Dan seperti penyangkalan pada umumnya, masalahnya bukan karena seseorang tidak tahu ada sesuatu yang salah. Ia mungkin tahu. Hanya saja mengakuinya adalah urusan lain.
Dalam “Oh My”, perasaan tersebut muncul lewat seseorang yang terus mencari jalan keluar dari kekacauan dirinya. Nostalgia menjadi tempat kabur, kecenderungan destruktif terus dipelihara, sementara di suatu tempat masih tersimpan keyakinan bahwa nanti akan ada seseorang yang datang dan membereskan semuanya.
Seseorang itu bernama Julee. Namun Julee bukan sekadar tokoh yang sengaja diciptakan supaya EP ini punya nama yang enak dibaca. Dalam semesta yang dibangun Tigarist, ia menjadi proyeksi dari sesuatu yang mungkin cukup familiar: keinginan untuk percaya bahwa hidup akan terasa lebih baik ketika orang yang tepat akhirnya datang.
Bahwa suatu hari ada seseorang yang memahami semuanya, mengisi bagian yang kosong, lalu entah bagaimana membuat kekacauan dalam kepala menjadi lebih mudah dibereskan.
Sayangnya, manusia lain jarang bekerja seperti teknisi kehidupan.
Dan di situlah Julee menjadi menarik. Ia bukan cuma seseorang yang dinantikan, melainkan representasi dari harapan sekaligus ilusi yang muncul ketika persoalan dalam diri sendiri terasa terlalu melelahkan untuk dihadapi.
Secara musikal, “Oh My” justru bergerak berlawanan dengan kegelisahan tersebut.
Tigarist menggunakan funk-pop sebagai fondasi, lalu memasukkan elemen indie-pop dan indie rock, permainan perkusi yang lebih dominan, serta lapisan ritmis yang terasa lebih padat dibanding materi mereka sebelumnya. Vokalnya pun dibawakan lebih terbuka.
Hasilnya adalah lagu tentang denial yang tidak terlalu terdengar seperti lagu tentang denial. Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Sebab penyangkalan tidak selalu terlihat seperti seseorang yang sedang berantakan. Ada orang yang masih pergi bekerja, bercanda, bertemu teman, jatuh cinta lagi, atau berdansa sampai malam sambil diam-diam menghindari satu percakapan dengan dirinya sendiri.
“Oh My” menangkap situasi tersebut tanpa harus membuat kesedihan terdengar sedih. Musiknya bergerak, sementara orang di dalam ceritanya justru sedang diam di tempat.
Kontradiksi itu kemudian menjadi pintu masuk menuju perjalanan yang lebih panjang dalam Oh My Julee, Maybe I Was Lost In Prophecy. “Oh My” baru memperkenalkan seseorang yang masih percaya bahwa keselamatan bisa datang dalam bentuk manusia lain. Bab-bab berikutnya akan membawa pertanyaan yang lebih tidak nyaman: bagaimana kalau orang yang selama ini ditunggu ternyata memang tidak pernah ditugaskan untuk menyelamatkan kita?
Untuk sekarang, Tigarist belum sampai ke sana. Mereka masih berada di tahap pertama. Masih menyangkal. Dan setidaknya untuk sementara, penyangkalan itu punya groove yang cukup enak untuk dibawa berdansa.
“Oh My” telah tersedia di berbagai layanan streaming digital sejak 17 Juli 2026.
Instagram: @tiqarist



